Lestarikan Jaipongan lewat Teknologi, PISN Latih Desain Kostum Digital di Lembang

  • 18 Agt 2026 15:19 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung Barat — Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), menyasar Sanggar Tari Purnamasari di Desa Gudangkahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, untuk pendampingan desain busana tari Jaipongan kreasi berbasis teknologi digital. Program selama tujuh bulan ini, bertujuan memperkuat pelestarian seni tradisi, agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

"Keterbatasan pengetahuan komunitas seni, dalam merancang busana berbasis teknologi digital, berdampak pada rendahnya kualitas visual pertunjukan. Di sinilah program ini hadir, tidak untuk menggantikan tradisi, tetapi untuk memperkuatnya," kata Prof. Dr. Trianti Nugraheni, M.Si, Ketua Tim PISN kepada RRI, Salasa 18 Agustus 2026.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim PISN memperkenalkan aplikasi Procreate, sebagai media penciptaan desain dua dimensi. Aplikasi ini dipilih, karena mudah diakses dan mendukung proses sketsa digital, pewarnaan, rendering, eksplorasi motif, hingga simulasi drapery secara sederhana.

"Procreate memungkinkan anggota sanggar membuat desain yang terstruktur, mudah direvisi, dan siap diterapkan dalam produksi kostum. Teknologi ini menjadi jembatan antara tradisi dan estetika masa kini," jelasnya.

Program ini dilaksanakan, melalui sembilan tahapan, mulai dari sosialisasi, identifikasi kebutuhan, pelatihan estetika busana Jaipongan, hingga pendampingan penciptaan desain. Pendekatan yang digunakan adalah pendampingan partisipatif berbasis praktik, sehingga anggota sanggar menjadi subjek aktif dalam proses co-creation.

"Kami tidak hanya memberi pelatihan, tetapi mendampingi langsung dari pembuatan mock-up digital, sampai evaluasi. Tujuannya, agar hasil karya benar-benar bisa digunakan sanggar," ujar dia.

Target program ini adalah, keterlibatan aktif minimal 10 peserta, dengan 80 persen di antaranya, mampu membuat desain busana digital sederhana. Selain itu, akan dihasilkan minimal lima desain busana Jaipongan kreasi, dan satu dokumen panduan sebagai arsip desain digital.

"Program ini langsung diarahkan pada penerapan hasil karya oleh komunitas. Busana yang dihasilkan tetap berakar pada nilai tradisi Jaipongan, namun adaptif terhadap perkembangan estetika visual," kata Trianti Nugraheni.

Keberlanjutan program, dijaga melalui pembentukan kader lokal di lingkungan sanggar, yang memiliki kemampuan desain busana digital. Panduan desain juga disusun sebagai referensi internal, dan penguatan jejaring antara sanggar, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan setempat.

"Kami berharap, Sanggar Purnamasari bisa mandiri mengembangkan desain, dan menjadi model yang dapat direplikasi komunitas seni tradisi lain, di tingkat lokal maupun nasional," paparnya.

Program PISN merupakan program pengabdian kepada masyarakat di bidang seni, desain, dan media yang berfokus pada penguatan kapasitas komunitas seni, melalui teknologi digital. Program ini dibiayai oleh Direktorat Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.

"Dengan inovasi ini kami ingin membuktikan ,bahwa teknologi tidak melunturkan tradisi, justru membuatnya semakin hidup dan profesional," tutup Trianti Nugraheni.

Sementara itu, Sanggar Tari Purnamasari selama ini, membina sekitar 50 anggota dari anak-anak hingga dewasa, dalam bidang tari tradisional Sunda, dan Jaipongan. Busana yang digunakan, masih bersifat konvensional, dengan variasi desain terbatas, dan belum melalui proses perancangan sistematis, maupun terdokumentasi digital.

"Selama ini kami membuat kostum secara manual. Desainnya itu-itu saja, dan tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga sulit dikembangkan," ungkap Pengelola Sanggar Tari Purnamasari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....