Seni Badud, Tradisi Pengusir Hama dari Pangandaran

  • 21 Jun 2026 17:18 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung : Pangandaran tidak hanya menyimpan pesona pantai yang eksotis, tetapi juga memiliki warisan budaya luhur yang unik bernama Seni Badud. Kesenian tradisional ini lahir dan berkembang di Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang.

Sebagai warisan karuhun (leluhur) yang diperkirakan sudah ada sejak paruh kedua abad ke-19, Seni Badud merekam jejak hubungan harmonis antara masyarakat agraris zaman dahulu dengan alam sekitarnya. Pada awal kemunculannya, Seni Badud bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup para petani.

Kesenian ini diciptakan sebagai sarana ritual untuk mengusir binatang buas dan hama perusak tanaman, seperti kera dan babi hutan, yang kerap mengganggu ladang menjelang musim panen. Suara bising dan gerakan teatrikal dalam pertunjukan sengaja dibuat untuk menakuti hewan-hewan tersebut agar menjauh dari kawasan pertanian warga.

Keunikan utama dari Seni Badud terletak pada perpaduan harmonis antara seni musik, tari, dan drama. Musik pengiringnya didominasi oleh dentuman enam buah dogdog (kendang kecil dari bambu) dan alunan delapan buah angklung berlaras salendro yang dimainkan secara kolektif.

Di tengah keriuhan musik tersebut, para pemain berakting mengenakan topeng atau kostum menyerupai hewan, lengkap dengan sepasang pemeran kakek dan nenek yang bertindak sebagai pemilik ladang.

Dalam perkembangannya, pertunjukan ini bertransformasi menjadi seni helaran (iring-iringan) yang interaktif dan penuh humor. Seringkali para penari berkostum binatang tampil dalam kondisi tidak sadar atau kesurupan, meniru gerakan-gerakan lincah, meloncat, bahkan bergulingan di tanah yang memicu gelak tawa sekaligus decak kagum penonton.

Interaksi spontan antara pemain dan masyarakat di arena terbuka inilah yang membuat suasana pertunjukan selalu terasa hidup dan meriah. Meskipun sempat menghadapi ancaman kepunahan akibat derasnya arus modernisasi, Seni Badud kini mulai bangkit kembali sebagai ikon wisata budaya.

Melalui pembentukan Kampung Badud di Desa Margacinta dan integrasi ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah, generasi muda setempat mulai diajak untuk melestarikannya. Seni Badud kini tidak lagi hanya mengusir hama di sawah, melainkan menyambut para pelancong yang ingin menikmati sisi lain dari kekayaan tradisi Pangandaran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....