Makna Peribahasa Sunda “Buruk-Buruk Papan Jati”

  • 30 Mei 2026 16:28 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Buruk-Buruk Papan Jati adalah salah satu peribahasa Sunda yang memiliki makna tentang nilai hubungan persaudaraan. Ikatan persaudaraan dan cinta kasih keluarga tidak akan pernah putus meskipun ada kekurangan atau masalah di antara mereka.

Peribahasa Sunda "buruk-buruk papan jati" bermakna bahwa seburuk, sekurang, atau sesalah-salahnya seorang saudara (keluarga), ia akan tetap menjadi saudara. Maksud dari pepatah ini adalah sesama saudara atau keluarga pasti ada ketidakcocokan bahkan kadang suka ada sedikit ribut-ribut tetapi harus bisa saling memaafkan .

Secara filosofis, papan jati menggambarkan kayu jati yang meskipun sudah tua, lapuk, atau kotor (buruk), tetap memiliki nilai, kekuatan, dan kualitas dasar kayu jati asli yang berharga. Dalam konteks sosial, ini menunjukkan bahwa pertalian darah atau keluarga akan selalu diutamakan untuk dibela dan diampuni kesalahannya.

Dikutip dari laman “Kumpulan Peribahasa Sunda”, Peribahasa ini menggambarkan loyalitas dan kasih sayang yang mendalam dalam hubungan kekeluargaan. Dalam budaya Sunda, "papan jati" melambangkan kerabat atau saudara. Meskipun kayu jati tersebut sudah lapuk atau kusam, nilai dan esensinya sebagai kayu berkualitas tinggi tidak akan pernah hilang.

Hal ini mengajarkan kita untuk selalu membela, memaafkan, dan membantu saudara yang sedang mengalami kesulitan atau membuat kesalahan. Meskipun memiliki banyak kekurangan, ikatan keluarga dan hubungan darah akan tetap diutamakan.

Dikutip dari laman Jurnal Universitas Pendidikan Indonesia tentang “Nilai dan Klasifikasi Pepatah Sunda”, menjelaskan bahwa relevansi maknanya dalam Konteks Sosial diantaranya Loyalitas Keluarga yang menggambarkan ikatan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Sebagaimana kayu jati yang tetap kuat dan bernilai tinggi meski sudah lapuk atau kusam, nilai seorang kerabat tidak akan hilang hanya karena sebuah kesalahan.

Prinsip memaafkan adalah menekankan pentingnya memaafkan kesalahan anggota keluarga dan selalu bersedia menolong mereka saat kesusahan, meskipun sebelumnya mungkin ada rasa kecewa atau amarah. Refleksi identitas memiliki maksud nilai luhur ini menjadi pedoman penting dalam budaya Sunda (papagah) untuk menjaga keharmonisan dan solidaritas di dalam lingkungan kekerabatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....