Ulin Barong, Penjaga Tradisi Agraris Jawa Barat
- 19 Mei 2026 20:18 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung : Kesenian Ulin Barong merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang sangat eksotis dari tanah Pasundan, Jawa Barat. Pertunjukan rakyat ini berpusat pada replika kepala binatang mitologis menyerupai singa atau naga berukuran besar, yang dipadukan dengan kostum karung goni atau ijuk sebagai badannya.
Dua orang penari biasanya berbagi tugas di dalam kostum tersebut satu mengendalikan kepala dan satu lagi menjadi bagian ekor. Bagi masyarakat Jawa Barat, Ulin Barong bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah pertunjukan seni yang memadukan keterampilan fisik dengan nuansa magis yang kuat.
Secara historis, Ulin Barong memiliki akar yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris di pedesaan Jawa Barat, salah satunya di wilayah Bandung Timur dan Sumedang. Pada masa lampau, kesenian ini kerap dipentaskan sebagai bagian dari ritual sakral, seperti upacara bersih desa, minta hujan, atau perayaan setelah panen raya.
Masyarakat meyakini bahwa sosok Barong merupakan simbol penjaga dan pelindung desa yang mampu mengusir roh jahat, kesialan, serta hama yang dapat merusak tanaman. Seiring berjalannya waktu, nilai ritual tersebut kini melebur menjadi seni pertunjukan rakyat yang dinamis.
Daya tarik utama dari Ulin Barong terletak pada gerakannya yang lincah, ekspresif, dan penuh kejutan. Dipengaruhi oleh unsur-unsur bela diri pencak silat, para pemain Barong harus memiliki fisik yang prima untuk dapat melompat, berguling, dan menggerakkan rahang Barong hingga memunculkan suara ketukan yang khas.
Pertunjukan ini semakin semarak dengan iringan musik tradisional yang bertempo cepat, seperti kendang, terompet pencak, dan gong. Ritme musik yang menghentak ini seolah menuntun pergerakan Barong menjadi lebih hidup dan memikat penonton.
Kini, Ulin Barong telah bertransformasi menjadi elemen penting dalam berbagai festival kebudayaan dan pesta rakyat di Jawa Barat. Kesenian ini sering dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan, memeriahkan pawai amanat (helaran), hingga merayakan khitanan anak. Kehadiran sosok raksasa yang menari-nari di tengah kerumunan selalu berhasil menarik perhatian ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat dan penuh kegembiraan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....