Bedahan, Jejak Identitas dan Status Sosial dalam Busana Elite Sunda Pajajaran

  • 30 Apr 2026 23:43 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Busana tradisional di Nusantara tidak sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga menjadi simbol identitas dan nilai budaya. Setiap pakaian memuat makna filosofis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam khazanah budaya Sunda, dikenal satu jenis busana penting pada masa Kerajaan Pajajaran, yakni bedahan. Pakaian ini menjadi bagian dari tradisi berpakaian kalangan elite pada zamannya.

Bedahan berkembang pada periode kerajaan Sunda yang berpusat di wilayah Tatar Pasundan. Kehadirannya mencerminkan tidak hanya estetika, tetapi juga struktur sosial dan identitas budaya masyarakat Sunda klasik.

Dikutip dari laman katadata. Secara historis, bedahan berkaitan erat dengan masa kejayaan Kerajaan Pajajaran pada abad ke-14 hingga ke-16. Kerajaan yang berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Bogor itu merupakan salah satu kekuatan besar di Jawa Barat.

Dalam kehidupan masyarakat saat itu, pakaian memiliki peran penting sebagai penanda status sosial. Perbedaan busana antara bangsawan dan rakyat biasa terlihat jelas dalam keseharian.

Bedahan kemudian menjadi simbol yang identik dengan kalangan elite kerajaan. Penggunaannya menegaskan posisi sosial sekaligus memperlihatkan kewibawaan pemakainya.

Secara bentuk, bedahan merupakan pakaian bagian atas dengan bukaan di bagian depan. Model ini membedakannya dari busana tradisional lain yang umumnya tertutup tanpa kancing.

Nama bedahan sendiri berasal dari kata “bedah” yang berarti terbuka atau terbelah. Bukaan di bagian depan memberikan kemudahan saat dikenakan sekaligus menciptakan kesan rapi dan formal.

Dalam praktiknya, busana ini lebih banyak dikenakan oleh kaum pria dari kalangan bangsawan. Bedahan digunakan dalam kegiatan resmi, baik urusan pemerintahan maupun acara seremonial kerajaan.

Pakaian pada masa itu tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi simbol legitimasi kekuasaan. Setiap elemen busana mencerminkan penghormatan terhadap tradisi istana.

Bedahan umumnya dibuat dari kain berkualitas tinggi yang ditenun secara khusus. Kualitas bahan tersebut menjadi penanda tingkat sosial pemakainya.

Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin halus dan mewah bahan yang digunakan. Hal ini menunjukkan kuatnya fungsi simbolik busana dalam masyarakat Sunda masa itu.

Dari segi desain, bedahan memiliki bentuk sederhana namun tetap elegan. Potongannya mengikuti tubuh dengan ukuran yang tidak terlalu longgar.

Bagian lengan dibuat panjang hingga menutupi pergelangan tangan untuk menambah kesan formal. Sementara bukaan depan biasanya dilengkapi kancing atau pengikat tertentu.

Bedahan sering dipadukan dengan sinjang sebagai bawahan serta ikat kepala seperti totopong atau iket. Kombinasi ini menciptakan tampilan khas yang mempertegas identitas budaya Sunda sekaligus menunjukkan kedudukan sosial pemakainya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....