Wihaji Soroti Bahaya Gawai Anak

  • 30 Apr 2026 17:49 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Penggunaan gawai berlebihan pada anak menjadi perhatian serius di era digital, karena dinilai dapat memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan sosial jika tidak dikendalikan secara tepat oleh orang tua.

Melansir dari kanal YouTube ParentalkID yang tayang Selasa 21 April 2026, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Dr. H. Wihaji, mengungkapkan bahwa ponsel kini telah menjadi “anggota keluarga baru” yang kehadirannya perlu diatur dengan bijak. Ia menyebut, anak-anak di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu 7,8 hingga 11 jam per hari menggunakan smartphone, jauh melampaui batas ideal yang direkomendasikan, yakni maksimal dua jam.

Menurut Wihaji, kondisi tersebut berpotensi membuat gawai menggantikan peran orang tua atau saudara sebagai “pengasuh” anak. “Jika tidak dikontrol, gawai bisa berdampak pada kesehatan mental dan kemampuan interaksi sosial anak,” ungkapnya. Ia menambahkan, pemerintah telah menggulirkan sejumlah kebijakan, salah satunya melalui program PP TUNAS (Tunda Anak Siap) yang bertujuan membatasi akses digital bagi anak di bawah usia 16 tahun serta melindungi mereka dari konten negatif.

Selain itu, Wihaji juga menyoroti fenomena fatherless yang terjadi pada sekitar 25 persen anak di Indonesia, yakni kondisi ketika ayah hadir secara fisik namun tidak terlibat secara emosional dalam pengasuhan. “Peran ayah sangat penting dalam membentuk kepemimpinan dan kestabilan emosi anak,” kata Wihaji.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menghadirkan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang mendorong keterlibatan aktif ayah dalam kehidupan anak, termasuk dalam kegiatan sekolah seperti pengambilan rapor. Ia menilai, kedekatan emosional dalam keluarga menjadi kunci dalam membangun karakter anak yang kuat.

Dalam praktik sehari-hari, Wihaji juga menerapkan aturan pribadi di keluarganya dengan menyediakan waktu tanpa gawai minimal satu jam setiap hari. Ia memanfaatkan momen perjalanan bersama keluarga sebagai waktu untuk berkomunikasi secara langsung. “Teknologi memang memberi kemudahan, tetapi jangan sampai justru mengendalikan kehidupan dan nilai-nilai dalam keluarga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan unit terkecil sekaligus fondasi utama dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu, penguatan kualitas keluarga harus dimulai dari komunikasi yang sehat dan interaksi langsung antaranggota keluarga.

Sebagai penutup, Wihaji mengimbau para orang tua untuk mengurangi penggunaan gawai pada anak dan lebih mengutamakan interaksi nyata. Upaya tersebut dinilai penting untuk menciptakan keluarga yang mandiri, harmonis, dan sejahtera di tengah tantangan era digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....