Jejak Rasa Tradisional dalam Gempuran Modernisasi

  • 21 Apr 2026 16:01 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Kuliner Sunda selama ini identik dengan sajian sederhana namun kaya rasa, seperti nasi liwet, lalapan, hingga sayur asem. Namun di balik popularitas itu, sejumlah makanan tradisional justru mulai sulit ditemukan dan terancam punah.

Perubahan selera masyarakat, minimnya regenerasi pembuat, hingga dominasi makanan modern menjadi faktor utama yang mendorong kondisi tersebut.

Dikutip dari laman visitbandung. Salah satu kuliner yang kini jarang ditemui adalah Rarawuan. Makanan ini berbahan dasar kacang tolo yang digoreng hingga renyah, lalu dipadukan dengan bumbu sederhana bercita rasa gurih.

Dahulu, Rarawuan kerap hadir sebagai camilan di pasar tradisional maupun acara hajatan. Kini, keberadaannya semakin tergeser oleh makanan ringan instan yang lebih praktis dan populer di kalangan generasi muda.

Selain itu, terdapat Geco, singkatan dari toge tauco khas Cianjur. Hidangan ini mengombinasikan tauge segar dengan saus tauco hasil fermentasi, menghasilkan cita rasa gurih dengan sentuhan manis dan aroma khas.

Namun, keberadaan Geco mulai langka seiring berkurangnya pembuat tauco tradisional. Proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan membuat generasi muda kurang tertarik untuk melanjutkan tradisi tersebut.

Kuliner manis tradisional seperti Peuyem Koroto juga mengalami nasib serupa. Jajanan ini memiliki tekstur lembut dengan rasa khas fermentasi yang ringan.

Dahulu, Peuyem Koroto mudah ditemukan di pasar tradisional, terutama saat momen hari raya atau acara adat. Kini, popularitasnya menurun akibat pergeseran minat masyarakat ke kue modern dengan tampilan dan variasi rasa yang lebih beragam.

Sementara itu, Bangkerok olahan singkong berbumbu rempah juga semakin sulit dijumpai. Rasanya gurih dengan sedikit sentuhan pedas, namun bahan dasar singkong yang kian kalah populer dibandingkan nasi atau kentang membuat makanan ini kurang diminati. Saat ini, Bangkerok hanya dapat ditemukan di beberapa wilayah pedesaan.

Fenomena langkanya kuliner tradisional Sunda tidak lepas dari perubahan gaya hidup masyarakat. Generasi muda cenderung memilih makanan cepat saji yang praktis, sementara makanan tradisional membutuhkan proses pengolahan yang lebih panjang.

Selain itu, tren kuliner yang berkembang di media sosial turut memengaruhi preferensi pasar terhadap makanan yang dianggap lebih modern dan menarik secara visual.

Padahal, kuliner tradisional tidak sekadar soal rasa, melainkan juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal. Setiap hidangan mencerminkan identitas masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Upaya pelestarian menjadi penting agar kuliner khas Sunda tidak hilang ditelan zaman. Selain dengan mengenalkan kembali makanan tradisional kepada generasi muda, masyarakat juga dapat berperan aktif dengan mempelajari dan memproduksi ulang resep-resep tersebut.

Dengan demikian, kuliner seperti Rarawuan, Geco, Peuyem Koroto, dan Bangkerok tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari kekayaan budaya yang relevan di masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....