Tarawangsa, Kidung Sunyi Dibalik Gesekan Dawai Kayu
- 10 Apr 2026 21:14 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID,Bandung: Di tengah hiruk-pikuk musik modern yang serba digital, Jawa Barat masih menyimpan sebuah rahasia suara yang mampu membawa pendengarnya masuk ke ruang kontemplasi yang dalam. Itulah Tarawangsa, instrumen gesek kuno yang sering disebut-sebut sebagai salah satu bentuk musik tertua dalam kebudayaan Sunda.
Berbeda dengan rebab pada umumnya, Tarawangsa memiliki bentuk tubuh yang lebih jangkung dan ramping, Biasanya dipahat dari kayu nangka atau kayu jengkol yang kuat namun mampu meresonansikan suara dengan lembut.
Keunikan utama Tarawangsa terletak pada dua dawainya yang memiliki peran berbeda. Satu dawai dimainkan dengan cara digesek untuk menghasilkan melodi yang meliuk-liuk seperti suara tangisan atau rintihan yang tenang, sementara dawai lainnya dipetik dengan jari telunjuk sebagai pengatur irama atau *pedal*.
Perpaduan antara gesekan yang repetitif dan petikan yang konstan ini menciptakan harmoni yang magis. Apalagi ketika dimainkan bersama iringan kecapi dalam sebuah ritual yang sering disebut *Jentreng*.
Bagi masyarakat agraris di Jawa Barat, khususnya di daerah Rancakalong, Sumedang, Tarawangsa bukanlah sekadar alat hiburan semata. Musik ini adalah sarana komunikasi spiritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Dewi Sri (Dewi Padi) atas hasil panen yang melimpah.
Dalam upacara adat seperti *Ngalaksa*, alunan Tarawangsa dipercaya menjadi jembatan antara dunia manusia dengan alam leluhur, di mana suara rendahnya yang bergema mampu menghadirkan suasana khidmat yang membuat siapa pun yang mendengar merasa teduh.
Daya tarik Tarawangsa juga terletak pada kemampuannya membawa pendengar ke dalam kondisi *trance* atau bawah sadar. Pola musiknya yang terus berulang tanpa banyak perubahan tempo memberikan efek meditatif yang luar biasa.
Tidak mengherankan jika saat ini banyak kalangan muda dan pecinta musik *ambient* mulai melirik Tarawangsa sebagai referensi musik yang menyembuhkan (*healing*). Suaranya yang jujur dan organik seolah menjadi penawar bagi telinga yang lelah dengan kebisingan kota.
Menjaga kelestarian Tarawangsa berarti menjaga detak jantung tradisi Sunda yang paling murni. Di tengah arus globalisasi, instrumen ini tetap bertahan bukan karena popularitasnya di panggung besar, melainkan karena kedalaman maknanya yang tak lekang oleh zaman.
Mengenal Tarawangsa adalah cara kita untuk kembali mendengar “bisikan alam” dan menghargai warisan leluhur yang mengajarkan bahwa dalam kesederhanaan dua dawai, terdapat filosofi hidup yang begitu luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....