Dampak adanya ojek online terhadap tukang becak
- 08 Apr 2026 11:27 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pemandangan jalanan kota-kota besar di Indonesia telah berubah drastis dalam satu dekade terakhir. Jika dulu sudut-sudut jalan didominasi oleh deretan becak yang menunggu penumpang, kini ruang tersebut perlahan digantikan oleh jaket hijau para pengemudi ojek online (ojol). Kehadiran transportasi berbasis aplikasi ini tidak hanya membawa kemudahan bagi masyarakat, tetapi juga menciptakan tantangan eksistensial bagi para penarik becak.
Pergeseran Preferensi dan Kecepatan Zaman
Faktor utama yang memicu dampak ini adalah efisiensi. Ojek online menawarkan kecepatan dan jangkauan yang tidak bisa disaingi oleh tenaga manusia. Dengan aplikasi di tangan, penumpang tidak perlu lagi berjalan ke pangkalan atau melakukan proses tawar-menawar harga yang sering kali melelahkan. Standarisasi tarif dalam aplikasi ojol memberikan kepastian biaya, sesuatu yang sering kali menjadi titik lemah bagi transportasi tradisional seperti becak.
Dampak Ekonomi yang Nyata
Secara ekonomi, pendapatan para tukang becak merosot tajam. Penumpang yang dulu mengandalkan becak untuk jarak pendek seperti ibu rumah tangga yang pulang dari pasar atau pelajar sekolah kini beralih ke ojol yang dianggap lebih praktis dan terkadang lebih murah dengan berbagai promosi. Kondisi ini membuat profesi penarik becak, yang mayoritas pelakunya adalah orang tua, semakin terpinggirkan ke dalam ceruk pasar yang sangat sempit.
Becak sebagai Warisan dan Daya Tarik Wisata
Meski kalah dalam hal kecepatan, becak sebenarnya memiliki nilai yang tidak dimiliki ojol: pengalaman. Di beberapa kota seperti Yogyakarta atau Solo, becak mulai bertransformasi dari sekadar alat angkut menjadi sarana wisata. Wisatawan sering kali lebih memilih becak untuk menikmati suasana kota dengan santai tanpa bising mesin. Di sinilah letak peluang bagi becak untuk tetap bertahan, yakni dengan mengubah nilai jualnya dari “kecepatan” menjadi “kenyamanan dan nostalgia”.
Mencari Titik Tengah: Regulasi dan Adaptasi
Dampak ojek online terhadap tukang becak adalah konsekuensi logis dari kemajuan teknologi yang tidak bisa dihentikan. Namun, bukan berarti becak harus punah. Beberapa pemerintah daerah mulai mencoba mengatur zonasi, di mana ojol dilarang mengambil penumpang di area tertentu yang menjadi “lahan” tradisional becak atau angkutan lokal. Langkah ini bertujuan untuk menjaga ekosistem ekonomi agar tetap inklusif bagi mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan teknologi tinggi.
Persaingan antara ojek online dan becak adalah potret nyata dari transisi zaman. Sementara ojol mewakili masa depan yang serba cepat dan digital, becak adalah pengingat akan sisi manusiawi dan sejarah transportasi kita. Perlindungan terhadap para tukang becak bukan berarti menolak kemajuan, melainkan bentuk kepedulian sosial agar mereka yang tertinggal oleh laju teknologi tetap bisa menyambung hidup dengan layak.
Penulis Eka .
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....