Gaya Politik KDM di Kritik Tokoh Muda Adat Sunda

  • 05 Apr 2026 13:48 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Subang - Tokoh Muda Sunda, yang mengaku dari kalangan masyarakat Adat Kampung Banceuy Kecamatan Ciater Kabupaten Subang Harry Gumbira, menyampaikan kritik tajam, terhadap Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi yang akrab di sapa KDM, menggunakan adat Sunda, hanya sebagai tunggangan politik. Dia juga menyebut, budaya Sunda tidak seharusnya dijadikan alat politik.

Karena, bagi Harry Gembira, Sunda adalah ruh spiritual, bukan sekedar identitas yang bisa dipakai sebagai strategi elektoral. Kang Dedi Mulyadi kata dia, hampir selalu muncul ketika orang berbicara soal kebangkitan simbol budaya Sunda dalam politik hari ini.

"Dari salam sampurasun, iket Sunda, sampai narasi spiritualitas Tatar Pasundan, semuanya menjadi bagian dari identitas politik KDM hari ini," tegas Harry Gembira kepada RRI di Subang Minggu, 5 April 2026.

Dirinya juga menyoroti soal seni tradisional, seperti wayang golek. Harry menilai beberapa penampilan KDM dalam pertunjukan wayang, dianggap merusak alur cerita atau lalakon, yang biasanya sakral, dan mengikuti pakem budaya. Budaya lanjut dia, tidak boleh kehilangan kesakralannya, tetapi disisi lain budaya juga perlu ruang hidup di tengah masyarakat modern.

"Sunda iru jiwa saya, cara saya menyampaikan diri kepada Tuhan. Buka alat politik," ujarnya.

Dalam sejarah politik di Indonesia, banyak pemimpin justru menjauh dari identitas budaya lokal, demi terlihat modern. Justru KDM melakukan kebalikannya, menjadikan budaya sebagai narasi politik.

"Di sini lah perdebatan itu muncul. Apakah itu bentuk pelestarian budaya?. Atau sekedar strategi branding politik?, jawabannya tidak hitam putih," tutur Harry Gumbira.

Di sisi lain, kata dia, kritik itu juga mengandung pengakuan. Dirinya juga tidak menutup mata, bahwa KDM mampu membuat budaya Sunda kembali ramai dibicarakan. Bahkan Harry Gumbira juga mengakui, satu hal penting dari politik KDM, mampu menghubungkan budaya dengan kekuasaan politik, sesuatu yang jarang dilakukan sebelumnya.

"Dan kadang politik itu, suka atau tidak suka, adalah panggung besar, untuk membuat sebuah budaya kembali terlihat," tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....