Apresiasi Teatrikal Jantur, Diky Candra: Mengingatkan agar Kita Pintar Merasa

  • 17 Mar 2026 08:35 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Tasikmalaya : Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengapresiasi teatrikal Jantur, karya Bode Riswandi yang dipentaskan di area Universitas Siliwangi, Kota Tasikmalaya, Senin 16 Maret 2026. Pertunjukan teatrikal berbasis riset ini, mengangkat konflik sosial dan pembangunan seperti dalam pementasan legenda Dadaha.

Diky mengaku, meski Ia pernah menjadi sutradara sejumlah Film Televisi, program TV, tidak sanggup membuat karya pertunjukan luar biasa karya seniman Tasikmalaya Bode Riswandi. Selain menciptakan karya luar biasa, Bode juga sukses menggerakan aktor- aktor, agar bermain maksimal.

“Ini membuktikan kepiawaian Bode menjalankan tusinya sebagai pemimpin atau sutradara. Karena pemimpin yang baik adalah yang bisa menggerakan semuanya agar tercipta satu harmoni yang indah,” ujarnya.

Cerita jantur yang disuguhkan lanjut Diky, juga mengingatkan agar tidak merasa pintar, tetapi bagaimana pintar merasa.”karena yang merasa pintar hanya tahu membangun tanpa melihat dampak. Karena tidak punya rasa,” katanya.

Diky berharap, Bode Riswandi tidak hanya meraih gelar doktor secara akademis, namun tetap menjadi “doktor terbaik” atas karya- karyanya.”tidak hanya untuk karya Jantur, tetapi juga karya lainnya,” ujarnya.

Sementara itu Sutradara Jantur Bode Riswandi mengatakan, pementasan ini mengangkat kisah alih wahana dari cerita Rakyat Dadaha, sebuah narasi lokal yang kini dibenturkan dengan fenomena eksploitasi lingkungan. Penonton akan menyaksikan bagaimana proyek pembangunan yang masif yang datang atas nama kesejahteraan, justru menjelma menjadi ancaman bencana bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

“Cerita ini membedah bagaimana hilangnya nilai- nilai tradisi dalam menjaga alam yang mengakibatkan rusaknya tatanan dan ekologis,” kata Bode.

Sehingga pertunjukan itu bukan sekadar tontonan estetik, melainkan sebuah advokasi seni yang menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan, sebelum pembangunan yang tidak terkendali membawa pada kehancuran.

“Ini diharapkan menjadi refleksi atas kejadian bencana yang terjadi di tanah air, yang kemungkinan akibat dari pemberantasan alam dan lingkungan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....