Jejak yang Kian Samar: Menjaga Nyawa Budaya Sunda di Bandung
- 26 Feb 2026 18:39 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Di berbagai sudut Bandung, bunyi budaya Sunda terasa kian lirih. Bukan karena kehilangan makna, melainkan karena kalah riuh oleh notifikasi gawai.
Dikutip dari laman finansialku, Kaulinan barudak yang dulu meramaikan sore lari di tanah berdebu, tawa yang lepas, dan pelajaran tentang kebersamaan perlahan tergeser layar sentuh. Lapangan bermain berubah fungsi, halaman rumah menyempit, dan ruang interaksi kian berpindah ke dunia digital.
Perubahan itu tidak hanya memengaruhi permainan anak, tetapi juga denyut kesenian tradisional. Goong Lonjor, Reog, Tarawangsa, hingga pantun buhun kini lebih sering hadir sebagai dokumentasi ketimbang pertunjukan yang hidup.
Regenerasi pelaku seni berjalan lambat, ruang pentas kian terbatas, dan minat generasi muda kerap terhenti pada label “jadul”.
Padahal, di balik getaran senar Tarawangsa dan hentakan ritmis Reog, tersimpan cara pandang orang Sunda dalam membaca alam, menata relasi sosial, serta merawat keseimbangan hidup.
Warisan lain yang ikut meredup adalah aksara Sunda. Huruf-hurufnya kalah cepat dari papan ketik dan kalah praktis dari font bawaan perangkat digital.
Digitalisasi memang memberi kemudahan, tetapi juga menyingkirkan yang tak beradaptasi. Tanpa upaya pelestarian yang konsisten baik melalui pendidikan, ruang publik, maupun platform digital aksara Sunda berisiko hanya menjadi ornamen dinding atau materi ujian tanpa fungsi keseharian.
Persoalan ini melampaui sekadar nostalgia; ia menyentuh soal identitas. Kota bertumbuh pesat, namun arah pertumbuhannya dipertanyakan: apakah kemajuan berjalan beriringan dengan pelestarian jati diri? Jika budaya hanya hadir sebagai pelengkap seremoni, generasi berikutnya mungkin mengenal namanya, tetapi tak pernah mengalami maknanya.
Budaya tidak diciptakan untuk disimpan semata, melainkan untuk dipraktikkan, dipentaskan, dan dihidupkan dalam keseharian.
Ketika permainan tradisional dimainkan kembali, kesenian diberi panggung yang layak, dan aksara digunakan dalam ruang publik maupun digital, warisan itu memperoleh napas baru.
Jika tidak dijaga sejak kini, bukan tidak mungkin yang tersisa hanyalah kalimat sederhana: dulu pernah ada.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....