Harga Kedelai Impor Naik, Pengrajin Tahu Tertekan
- 15 Jun 2026 14:58 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Kenaikan harga kedelai impor mulai memberikan tekanan terhadap industri tahu di Jawa Barat. Sejumlah pengrajin mengaku mengalami penurunan keuntungan, bahkan ada yang terpaksa menghentikan operasional usahanya akibat tingginya biaya produksi.
Ketua Pengrajin Tahu Jawa Barat, M. Zamaludin, mengatakan harga kedelai impor saat ini telah mencapai Rp11.200 per kilogram. Angka tersebut meningkat dibandingkan sebelum Ramadan lalu yang masih berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.
"Harga sekarang sudah Rp11.200. Sebelum puasa itu Rp8.000 sampai Rp9.000. Menurut importir, awalnya dipengaruhi perang, kemudian sekarang karena dolar terus naik," ujarnya dalam program Bandung Menyapa RRI Pro 1 Bandung, Senin, 15 Juni 2026.
Ia menjelaskan, industri tahu sangat bergantung pada pasokan kedelai impor sehingga kenaikan harga bahan baku langsung berdampak pada biaya produksi. Kondisi tersebut membuat keuntungan para pengrajin semakin menipis dan sebagian bahkan mengalami kerugian.
"Keuntungannya sudah berkurang, malah ada yang sampai merugi. Di daerah Cianjur ada yang sampai tutup pabrik," katanya. Meski demikian, produksi tahu di sejumlah sentra industri masih berjalan normal.
Menurut Jamal, belum terjadi penurunan produksi yang signifikan karena permintaan masyarakat terhadap tahu dan tempe masih cukup tinggi. "Kalau untuk produksi tidak ada penurunan sebenarnya, yang jadi masalah itu modalnya yang semakin besar, sehingga keuntungan menjadi tipis," ucapnya.
Para pengrajin saat ini masih menahan kenaikan harga jual produk karena harga kedelai dinilai belum stabil. Mereka khawatir jika harga jual dinaikkan sekarang, kenaikan harga bahan baku kembali terjadi dalam waktu dekat.
"Kami menunggu harga stabil dulu. Kalau hari ini naik harga, besok kedelainya naik lagi, itu yang bikin repot," ujarnya.
Jamal berharap pemerintah dapat segera merealisasikan bantuan atau subsidi bagi pelaku usaha tahu dan tempe. Menurutnya, dukungan tersebut diperlukan agar industri tahu rakyat tetap mampu bertahan di tengah fluktuasi harga kedelai impor dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Penulis: Raissa Mutiara Gayatri RRI/Magang
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....