Pemkot Bandung, Dorong Kebangkitan Ekosistem Bandara Bandung

  • 11 Feb 2026 14:02 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Pemerintah Kota Bandung terus mendorong kebangkitan ekosistem transportasi udara guna mengembalikan kejayaan sektor penerbangan di Kota Bandung. 

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menghidupkan kembali ekosistem bandara agar mampu menarik minat investor swasta untuk turut mengelola dan mengoperasikan layanan penerbangan.

“Bagaimana kita bisa menghidupkan kembali ekosistem. Tugas kami bertiga adalah menghidupkan dan menjaga ekosistem. Dengan demikian, diharapkan nanti akan ada investor swasta yang masuk dan mengoperasikan,” ujar Farhan, Rabu 11 Februari 2026.


Baca Juga: KAI Bandung Siapkan Layanan dan Pengamanan Kereta Api


Farhan menjelaskan, ketika ekosistem penerbangan kembali bergeliat, Pemerintah Kota Bandung berharap dukungan penuh dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi agar peluang tersebut dapat ditangkap bersama.

“Ketika itu terjadi, kami berharap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi bisa menangkap peluang ini bersama-sama dengan kita. Insya Allah,” katanya.

Secara teknis, lanjut Farhan, kemampuan operasional pengelolaan bandara tidak perlu diragukan. PT Angkasa Pura dinilai sangat siap dalam mengelola operasional bandara secara profesional. Selain itu, berbagai infrastruktur penunjang juga telah disiapkan.

Ia menyebutkan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyelesaikan pembangunan jalan layang yang menjadi bagian penting dalam mendukung konektivitas menuju kawasan bandara. Dengan dukungan tersebut, konsep Transit Oriented Development (TOD) di kawasan bandara diyakini semakin matang.

“Maka Kota Bandung memastikan bahwa arus penumpang berjalan baik. Menteri PUPR dan infrastruktur juga sudah menyelesaikan jalan layang, sehingga sebagai sebuah TOD kita betul-betul siap,” jelasnya.

Meski demikian, Farhan mengaku belum menetapkan target khusus dalam waktu dekat. Menurutnya, yang terpenting adalah mengawali kembali operasional secara bertahap dan konsisten.

“Belum pakai target. Yang paling penting jalan dulu. Potensinya besar sekali,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa sebelum pandemi Covid-19 melanda, tepatnya pada tahun 2019, jumlah penumpang di bandara Bandung mencapai 3,8 juta orang per tahun dengan sekitar 18 ribu penerbangan internasional. Angka tersebut menjadi bukti besarnya potensi pasar penerbangan di Bandung dan sekitarnya.

“Terakhir, pada 2019 sebelum Covid, dalam setahun ada 3,8 juta penumpang dan 18 ribu penerbangan internasional. Jadi potensi itu harus dikembalikan. Tahun 2025 sekarang baru mencapai 4 ribu lebih,” ungkapnya.

Terkait pembukaan rute-rute penerbangan baru, Farhan menyebut hal tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan operator swasta serta perizinan dari Kementerian Perhubungan. Pemerintah daerah, kata dia, berperan dalam menciptakan iklim yang kondusif dan memastikan kesiapan infrastruktur pendukung.

“Belum tahu, itu sebetulnya keputusan dari operator swasta dan izin dari Kementerian Perhubungan,” ucapnya.

Namun demikian, Farhan berharap rute-rute strategis yang sebelumnya sempat beroperasi dapat kembali dibuka. Di antaranya penerbangan domestik menuju Medan, Palembang, Lampung, sejumlah kota di Pulau Jawa, Bali, Balikpapan, Sulawesi, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

“Kalau kita berharap seperti dulu lagi: Medan, Palembang, Lampung, seluruh Jawa, Bali, Balikpapan, Sulawesi, Jakarta, Semarang, Jogja, Surabaya. Jadi ada 11 destinasi domestik dan tiga destinasi internasional: Singapura, Kuala Lumpur, dan Johor,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....