Liburan Bikin Bahagia? Belum Tentu

  • 29 Sep 2026 14:05 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Tidak semua orang menganggap liburan ke tempat jauh sebagai cara terbaik untuk menikmati waktu luang. Bagi sebagian orang, menghabiskan akhir pekan di rumah justru terasa lebih menyenangkan karena memberikan ruang untuk beristirahat tanpa banyak tuntutan.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam tayangan kanal YouTube Psikologi Sederhana yang tayang pada 17 September 2026. Tayangan itu mengulas alasan seseorang dapat merasa lebih nyaman berada di rumah dibandingkan bepergian ke tempat wisata, sekaligus membedakan kebutuhan beristirahat dengan anggapan bahwa seseorang malas berlibur.

Rumah merupakan tempat yang sudah sangat dikenal sehingga seseorang tidak perlu melakukan banyak penyesuaian ketika berada di dalamnya. Mulai dari suasana ruangan, tempat menyimpan barang, hingga kebiasaan sehari-hari sudah berada dalam kendali, sehingga waktu luang dapat digunakan sesuai kebutuhan pribadi.

Kondisi tersebut berkaitan dengan konsep place attachment dalam psikologi lingkungan, yaitu ikatan emosional yang terbentuk antara seseorang dengan tempat tertentu. Rumah dapat memiliki makna kuat karena sering dikaitkan dengan rasa aman, privasi, pengalaman positif, serta kesempatan untuk memulihkan diri.

Karena itu, menikmati waktu di rumah tidak selalu berarti seseorang tidak menyukai perjalanan atau memiliki masalah dalam kehidupan sosialnya. Aktivitas sederhana seperti mengenakan pakaian yang nyaman, menyantap makanan favorit, menonton film, atau tidak memiliki agenda dapat menjadi bentuk istirahat yang sesuai bagi sebagian orang.

Kebahagiaan dari sebuah liburan juga tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa jauh seseorang bepergian. Tayangan tersebut membahas sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.500 orang di Belanda yang menunjukkan bahwa orang yang akan berlibur melaporkan kebahagiaan lebih tinggi sebelum perjalanan, salah satunya karena adanya rasa senang saat menantikan liburan.

Namun, setelah kembali dari perjalanan, tingkat kebahagiaan mereka secara umum tidak berbeda dengan orang yang tidak berlibur. Peningkatan kebahagiaan setelah perjalanan terutama terlihat pada mereka yang menjalani liburan dengan suasana yang sangat santai.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa manfaat liburan tidak hanya ditentukan oleh perpindahan tempat. Bagi sebagian orang, tempat baru, pemandangan berbeda, makanan, dan pengalaman baru memang dapat memberikan energi, sedangkan bagi orang lain terlalu banyak aktivitas justru dapat menambah keputusan, perjalanan, jadwal, suara, dan penyesuaian.

Kondisi rumah juga tidak selalu memberikan rasa nyaman bagi setiap orang. Rumah yang dipenuhi konflik, ketidaknyamanan, atau tekanan justru dapat menjadi sumber stres. Dengan demikian, pengalaman seseorang terhadap tempat sangat bergantung pada bagaimana tempat tersebut dirasakan dan kebutuhan apa yang ingin dipenuhi.

Bagi masyarakat yang terbiasa melihat gambaran liburan melalui media sosial, pilihan untuk tetap berada di rumah terkadang terlihat kurang menarik. Padahal, waktu luang tidak harus selalu diisi dengan perjalanan jauh, hotel, atau mengunjungi tempat wisata untuk memberikan pengalaman yang berarti.

Jika seseorang merasa lebih bahagia membayangkan akhir pekan di rumah, pilihan tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa dirinya sedang melewatkan kehidupan. Bisa jadi, tubuh dan pikiran memang sedang membutuhkan suasana yang lebih tenang, familiar, dan minim tuntutan.

Pada akhirnya, kualitas waktu luang bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang pergi, tetapi apakah kegiatan yang dipilih mampu memberikan kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan diri. Bagi sebagian orang, jawabannya mungkin sebuah perjalanan, sementara bagi yang lain cukup dengan menikmati rumah yang terasa nyaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....