Lorong Merah Putih Nusawangi, Simbol Gotong royong di tengah Individualisme Kota
- 16 Agt 2026 21:20 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Tasikmalaya - Beragam cara dilakukan warga menyambut HUT ke - 81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026. Mulai dari memasang hiasan bertema merah putih, hingga pemasangan bendera merah putih dengan jumlah yang banyak.
Salah satunya, juga dilakukan warga Gg Nusawangi Kulon RW 06, Kelurahan Nagarawangi, Kota Tasikmalaya. Warga setempat memasangi lorong gang, dengan kain merah putih, sepanjang 25 meter.
Gang Nusawangi sendiri, merupakan
gerbang penghubung antar wilayah Nagarawangi dan sekitarnya. “Iya ini gang penghubung ya. Dulu tempat ini sempat menjadi tempat pembuangan sampah,” kata
Ketua PHBN Nusawangi Kulon, Kelurahan Nagarawangi Yudha Asmara Alfaripan, Minggu 16 Agustus 2026.
Ia melanjutkan, seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan, penataan lingkungan, dan semangat kebersamaan, maka tercipta ide untuk menghias gang ini.”ini kami pikirkan bersama- sama, bagaimana gang ini bisa indah, dan mencerminkan bagaimana penataan lingkungan kami berjalan baik. Momentumnya saat ini,” ujarnya.
Lorong merah putih ini lanjut Yudha,
bukan sekedar estetika lingkungan saja. Namun, ini menjadi simbol semangat gotong royong warga, untuk membuat lorong merah putih perdana di Nagarawangi
“Kami sadar wilayah ini adalah perkotaan yang rentan tergerus oleh budaya individualisme. Namun dengan ini, mudah- mudahan semakin menumbuhkan semangat gotong royong dan kebersamaan,” katanya.
Yudha juga mengatakan, dalam menyambut HUT ke - 81 kemerdekaan Republik Indonesia, warga juga berencana menggelar parade Liwet antar wilayah RT. “Parade liwet ini sebagai simbol rasa syukur akan kemerdekaan ini. Parade liwet akan digelar di lorong merah putih di malam rabu mendatang, dan dihidangkan untuk dinikmati secara umum oleh masyarakat nagarawangi,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra yang melihat secara langsung lorong merah putih ini mengaku takjub dengan kreasi warga. Terlebih mereka bergotong royong mengerjakan ini, dengan biaya mandiri.
“Kita ga boleh suudzon ke masyarakat. Contoh lorong viral ini, masyarakat tanpa APBD, tanpa proposal ke pemerintahan namun luar biasa kreatif. Mereka kompak, seru dan mereka bahagia. Warga juga antusias,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....