Tradisi Nyimplo yang Dilakukan Masyarakat Indramayu Bulan Safar
- 14 Agt 2026 01:17 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Makanan yang bentuknya menyerupai apem ini memiliki kisah yang lekat dengan datangnya bulan Safar. Biasanya, cimplo disajikan dengan guyuran kinca gula merah yang menyatu dengan parutan kelapa, lalu dibagikan kepada orang-orang di sekitar.
Di balik kebiasaan tersebut tersimpan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian masyarakat mengenal tradisi berbagi cimplo sebagai sedekah yang dilakukan pada bulan Safar, sekaligus menjadi bentuk ikhtiar dan doa agar terhindar dari berbagai marabahaya.
Safar pada masa lalu oleh sebagian masyarakat disebut sebagai bulan Bala. Istilah tersebut merujuk pada keyakinan lama bahwa bulan Safar merupakan masa yang berkaitan dengan datangnya berbagai musibah. Karena itu, masyarakat melakukan sejumlah ikhtiar, salah satunya dengan membuat cimplo untuk kemudian dibagikan.
Tradisi tersebut tidak berarti masyarakat menganggap cimplo mempunyai kemampuan khusus untuk menangkal musibah. Bagi mereka yang masih menjalankannya, cimplo lebih menjadi bagian dari kegiatan bersedekah yang dibarengi doa dan harapan akan keselamatan."Kebiasaan itu kemudian dikenal dengan sebutan 'nyimplo'. Cimplo yang dibuat di rumah dibagikan kepada tetangga, kerabat, maupun warga yang tinggal di sekitar.
Cimplo makanan serupa apem yang diguyur gula kinca.
Apem sendiri telah lama hadir dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa. Dalam sejumlah penafsiran budaya, nama apem kerap dihubungkan dengan kata "afwan" atau "afuan" secara harfiah artinya maaf, dan secara istilah bermakna permohonan maaf dan ampunan.
Namun, pemaknaan tersebut merupakan bagian dari perkembangan tradisi dan tafsir budaya yang hidup di masyarakat, bukan satu-satunya penjelasan mengenai asal-usul apem.
Perubahan itu merupakan bagian dari perjalanan zaman. Meski praktiknya mulai berkurang, cerita mengenai cimplo dan bulan Bala masih hidup dalam ingatan sebagian masyarakat.
Warisan tersebut tidak perlu selalu ditempatkan dalam perdebatan mengenai benar atau salah. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni memastikan generasi muda tetap mengetahui cerita yang pernah hidup di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, cimplo menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar adonan yang dimasak lalu disiram kinca. Ada sedekah, doa, kebersamaan, dan warisan tutur yang ikut menyertainya.
Di tengah tradisi yang perlahan berubah, cimplo tetap menjadi salah satu penanda ingatan budaya masyarakat Indramayu. Rasanya mungkin sederhana, tetapi kisah yang mengiringinya menyimpan jejak tentang bagaimana masyarakat masa lalu memaknai bulan Safar, dan membangun harapan melalui kebiasaan berbagi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....