Cara Membangun Kepercayaan Diri dalam Perspektif Islam

  • 29 Jul 2026 12:06 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Rasa malu, minder, dan rendah diri dapat membuat seseorang ragu mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Dalam perspektif Islam, kepercayaan diri dapat dibangun dengan mengenali potensi, memperkuat niat, dan berani mengambil langkah.

Kepercayaan diri bukan berarti merasa lebih unggul dibandingkan orang lain. Sikap tersebut lebih berkaitan dengan keyakinan untuk menjalankan kebaikan dan menghadapi tantangan tanpa terus-menerus meragukan kemampuan diri.

Langkah pertama dapat dimulai dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai. Keinginan yang jelas akan lebih mudah diwujudkan ketika seseorang memiliki tekad dan bersedia menyusun langkah untuk mencapainya.

Dalam sebuah kajian, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa keinginan perlu berkembang menjadi tekad sebelum diwujudkan melalui niat dan usaha. Menurutnya, seseorang perlu memiliki motivasi kuat agar keinginannya tidak berhenti sebagai harapan.

"Jadi ada tiga tahapan kita mengerjakan sesuatu itu berdasar dasar hati kita dulu. Yang pertama ada keinginan, yang kedua ada tekad, yang ketiga ada niat." ujar Ustaz Adi Hidayat.

Setelah memiliki tujuan, seseorang perlu berani memulai meskipun kemampuan yang dimiliki belum sempurna. Proses belajar dan pengalaman akan membantu seseorang mengenali kekurangan sekaligus menemukan cara untuk memperbaikinya.

Dalam perjalanan tersebut, kesalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mencoba. Kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi agar seseorang mengetahui bagian yang perlu diperbaiki pada langkah berikutnya.

"Kalau salah wajar namanya baru belajar. Jangan langsung divonis saya enggak bisa, tapi Allah menampakkan itu supaya diperbaiki." kata Ustaz Adi Hidayat.

Perspektif Islam juga mengajarkan pentingnya berdoa sebelum menjalankan suatu usaha. Doa menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan, kekuatan, dan bimbingan dalam menghadapi proses yang dijalani.

Pada saat yang sama, seseorang tetap perlu melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh. Setelah berusaha, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT sebagai bentuk tawakal dan penerimaan terhadap ketetapan-Nya.

Dengan demikian, membangun kepercayaan diri tidak cukup hanya dengan meyakinkan diri bahwa seseorang mampu. Diperlukan keberanian untuk memulai, kesediaan belajar dari kesalahan, serta keyakinan bahwa setiap proses memiliki pelajaran.

Pada akhirnya, kepercayaan diri dalam perspektif Islam dapat menjadi dorongan untuk terus bergerak menuju kebaikan. Keyakinan terhadap kemampuan diri berjalan bersama usaha dan doa, sementara hasilnya diserahkan kepada Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....