Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah, Momen Istimewa yang Sarat Nilai Ibadah
- 22 Mei 2026 10:16 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Bulan Dzulhijjah selama ini identik dengan Hari Raya Idul Adha dan ibadah kurban. Namun di balik itu, Dzulhijjah menyimpan keistimewaan besar yang menjadikannya salah satu bulan paling mulia dalam kalender Hijriah.
Keutamaan tersebut terutama terasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Dalam berbagai riwayat, hari-hari ini disebut sebagai waktu terbaik untuk memperbanyak amal ibadah karena pahala yang dijanjikan memiliki nilai sangat besar di sisi Allah SWT.
Tidak hanya ibadah besar, amalan sederhana seperti sedekah, dzikir, membaca Al-Quran, hingga salat sunnah juga dianjurkan untuk diperbanyak. Momentum ini kerap dimanfaatkan umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki hubungan spiritual dengan Tuhan.
Dilansir dari laman Almanhaj Jumat 22 Mei 2016, Dzulhijjah juga menjadi bulan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Kota Suci Makkah untuk menjalankan rukun Islam kelima.
Momen tersebut menghadirkan gambaran tentang persatuan umat Islam tanpa memandang perbedaan bangsa, bahasa, maupun budaya. Seluruh jamaah datang dengan tujuan yang sama, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Keistimewaan lainnya hadir pada 9 Dzulhijjah atau Hari Arafah. Hari ini dikenal sebagai salah satu waktu paling utama untuk berdoa dan memohon ampunan.
Bagi umat Islam yang menjalankan puasa Arafah, terdapat keutamaan berupa penghapusan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Karena itu, puasa Arafah menjadi salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan.
Selanjutnya, pada 10 Dzulhijjah umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha. Perayaan ini bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga mengandung makna mendalam mengenai pengorbanan, keikhlasan, dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Tradisi kurban menjadi simbol kesediaan manusia untuk mengorbankan sesuatu yang dicintai demi nilai yang lebih besar. Nilai tersebut tercermin dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menjadi teladan keimanan bagi umat Islam.
Setelah Idul Adha, umat Islam memasuki Hari Tasyrik pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari tersebut, umat dianjurkan memperbanyak dzikir, bersyukur, dan mempererat kebersamaan dengan keluarga maupun masyarakat.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, pada masa Tasyrik umat Islam justru dilarang berpuasa. Suasana yang tercipta pun menjadi perpaduan antara ibadah spiritual dan kebersamaan sosial.
Jika dipahami lebih dalam, Dzulhijjah bukan sekadar penutup tahun dalam kalender Hijriah. Bulan ini menjadi momentum lengkap yang menghadirkan nilai ibadah, refleksi diri, pengorbanan, hingga penguatan solidaritas antarsesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....