Asal Usul Nama Selat Hormuz

  • 30 Apr 2026 19:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Nama Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi internasional. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas ini dikenal sebagai jalur vital, karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap harinya melalui kawasan tersebut.

Dilansir dari tayangan kanal YouTube Jazirah Ilmu pada senin 20 April 2026 , nama “Hormuz” tidak sekadar merujuk pada wilayah geografis, melainkan memiliki akar sejarah dan filosofi panjang dari peradaban Persia kuno. Istilah Hormuz diyakini merupakan evolusi dari kata “Hormiz” atau “Ormazd” yang berasal dari nama Ahura Mazda, yaitu Tuhan tertinggi dalam ajaran Zoroastrianisme.

Dalam konteks sejarah, Ahura Mazda dipandang sebagai simbol cahaya, kebenaran, dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, penggunaan nama Hormuz pada suatu wilayah bukan hanya penamaan biasa, melainkan mencerminkan klaim spiritual dan simbol perlindungan ilahi terhadap kawasan tersebut. Penamaan ini menunjukkan bahwa wilayah itu dianggap berada di bawah kekuasaan cahaya dan kebenaran.

Selain berasal dari aspek teologis, nama Hormuz juga memiliki dimensi historis dari tokoh-tokoh Persia. Beberapa raja dalam Kekaisaran Sasaniyah menggunakan nama Hormiz, seperti Hormiz I, Hormiz II, dan Hormiz IV. Mereka dikenal sebagai penguasa yang berperan dalam menjaga jalur perdagangan dan stabilitas wilayah pesisir Teluk Persia, sehingga nama tersebut semakin melekat dalam peta geografi kawasan itu.

Secara geografis, Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya, dengan jalur pelayaran efektif yang jauh lebih sempit untuk kapal tanker besar. Posisi ini menjadikan Hormuz sebagai “choke point” atau titik krusial dalam perdagangan energi global. Jika terjadi gangguan di kawasan ini, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh ekonomi dunia, termasuk lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan pasar internasional.

Dalam perkembangannya, nama Hormuz juga pernah merujuk pada pusat perdagangan penting, yakni Kerajaan Hormuz yang berjaya antara abad ke-10 hingga ke-17. Wilayah ini menjadi simpul perdagangan global yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Hormuz bukan hanya nama tempat, tetapi simbol kemakmuran dan kekuatan ekonomi pada masanya.

Dengan latar belakang sejarah yang panjang, Selat Hormuz kini tidak hanya dipandang sebagai jalur strategis, tetapi juga sebagai simbol identitas, kekuasaan, dan warisan peradaban Persia. Ketegangan yang terjadi di kawasan ini pun tidak lepas dari faktor sejarah dan persepsi kedaulatan yang masih kuat hingga saat ini.

Sebagai salah satu jalur paling vital di dunia, keberadaan Selat Hormuz terus menjadi perhatian global, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun sejarah yang melatarbelakanginya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....