Dunia tanpa Tidur, antara Produktivitas dan Kehilangan “Jeda” Hidup

  • 30 Apr 2026 08:35 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Pernah merasa waktu 24 jam sehari terasa kurang? Baru saja menyelesaikan sekolah atau pekerjaan, hari sudah berganti malam. Rencana untuk bersantai, menonton, atau sekadar menikmati waktu luang sering kali kandas karena rasa lelah yang berujung pada tidur.

Lalu muncul pertanyaan menarik: bagaimana jika manusia tidak perlu tidur sama sekali? Sekilas, gagasan ini terdengar menggiurkan. Tambahan waktu berjam-jam setiap hari seolah membuka peluang tanpa batas untuk beraktivitas.

Dikutip dalam lama Kgnow, Dari sisi waktu, perubahan yang terjadi akan sangat signifikan. Mengacu pada berbagai kajian, manusia rata-rata menghabiskan sekitar sepertiga hidupnya untuk tidur. Jika kebutuhan itu hilang, setiap orang akan “mendapatkan kembali” sekitar delapan jam per hari setara hampir dua hari tambahan dalam satu pekan.

Kondisi ini berpotensi mendorong lonjakan produktivitas. Seseorang bisa bekerja lebih lama, mempelajari keterampilan baru, bahkan menjalani lebih dari satu pekerjaan. Aktivitas ekonomi pun bisa berjalan tanpa henti, dengan kantor, layanan publik, hingga kota yang beroperasi penuh selama 24 jam.

Namun, peningkatan produktivitas tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Ketika waktu dianggap lebih longgar, ekspektasi pun cenderung meningkat. Dunia kerja bisa menuntut jam kerja lebih panjang, sementara dunia pendidikan mungkin membebani siswa dengan lebih banyak tugas.

Alih-alih memiliki waktu luang, manusia justru berpotensi kehilangan ruang istirahat yang selama ini menjadi penyeimbang hidup. Waktu yang semula diharapkan untuk relaksasi bisa berubah menjadi tambahan kewajiban.

Dari sisi biologis, dampaknya juga tidak sederhana. Selama ribuan tahun, manusia hidup mengikuti ritme alami siang dan malam. Tubuh dirancang untuk aktif saat terang dan beristirahat saat gelap. Tanpa tidur, pola tersebut akan berubah drastis, menciptakan dunia yang terus bergerak tanpa jeda.

Kehidupan sosial pun berpotensi menjadi lebih kompleks. Saat ini, tidur berfungsi sebagai batas alami aktivitas manusia. Tanpa batas itu, jadwal setiap individu bisa sangat berbeda, sehingga menyulitkan sinkronisasi dalam interaksi sosial, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pertemanan.

Lebih jauh lagi, tidur memiliki fungsi penting bagi kesehatan otak. Dalam kondisi tidur, otak melakukan proses pemulihan, menyusun ulang memori, serta menjaga keseimbangan emosi. Tanpa mekanisme ini, manusia kemungkinan membutuhkan sistem biologis atau teknologi baru untuk menggantikannya.

Sejumlah ilmuwan memang pernah membayangkan masa depan di mana teknologi atau rekayasa genetika memungkinkan manusia tidak perlu tidur. Namun hingga kini, tidur tetap menjadi kebutuhan biologis yang sulit tergantikan.

Jika suatu saat manusia benar-benar bisa hidup tanpa tidur, dunia mungkin akan bergerak dalam mode “fast forward” lebih cepat, lebih padat, dan lebih kompetitif.

Meski demikian, tidur justru bisa dipandang sebagai “tombol jeda” yang menjaga keseimbangan hidup di tengah ritme yang terus berjalan.

Pada akhirnya, di tengah segala kemungkinan itu, satu hal tetap sederhana: berbaring di kasur dan memejamkan mata sering kali menjadi momen paling berharga sesuatu yang tidak selalu bisa digantikan oleh tambahan waktu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....