Dari Tempat "Ngaliwet', 14 Tahun Perjalanan FORKOWAS
- 27 Mar 2026 09:45 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Sumedang - Ada sebuah pameo yang mengatakan bahwa hal-hal besar sering kali lahir dari obrolan sederhana. Bagi Forum Komunikasi Wartawan Santri (FORKOWAS), hal itu bukanlah sekadar kiasan. Berawal dari sekadar tempat berkumpul dan "ngaliwet" para pemburu berita, organisasi ini kini telah bertransformasi menjadi pilar informasi dan edukasi yang kokoh di usia ke-14 tahun.
Ketua Umum FORKOWAS, Azis Abdullah, mengenang kembali memori awal pembentukan forum ini. Jauh sebelum memiliki struktur yang mapan, FORKOWAS adalah ruang rindu bagi para kuli tinta yang kerap melepas lelah setelah meliput di Gedung Negara atau DPRD Sumedang.
"Dulu kami hanya sebatas awak media yang aktif liputan di Sumedang baik cetak, elektronik, maupun online. Kami sering kumpul-kumpul, mengetik berita sambil lesehan," kenang Azis Jumat 27 Maret 2026.
Secara formal, wadah silaturahmi ini digagas pada 9 April 2012. Seiring berjalannya waktu, FORKOWAS bertumbuh pesat. Dari segelintir orang, kini anggotanya mencapai hampir 40 jurnalis yang mayoritas telah tersertifikasi melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
Memasuki usianya yang ke-14, FORKOWAS melakukan reposisi identitas yang semakin religius dan humanis dengan tajuk Forum Komunikasi Wartawan Santri. Sisi spiritual ini dipertegas dengan pembentukan Majelis Taklim Bersatu (MTB) di bawah bimbingan ulama kharismatik Sumedang, KH. M. Abdul Qodir Al-Manafi.
Namun, semangat santri di sini juga bermakna pengabdian. FORKOWAS dikenal aktif turun ke wilayah perbatasan yang sulit terjangkau untuk melakukan aksi bakti sosial, diskusi publik, hingga menjadi garda terdepan informasi akurat saat pandemi melanda.
Salah satu prestasi membanggakan yang tak banyak diketahui publik adalah peran FORKOWAS sebagai "pencetak" wartawan profesional. Organisasi ini telah menjadi sekolah alam bagi banyak jurnalis yang memulai karier dari nol hingga akhirnya sukses berkiprah di media skala nasional, regional, maupun lokal.
Tak hanya bagi profesional, FORKOWAS juga membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat melalui program:
Literasi Digital Santri:
Membekali generasi muda pesantren dengan kemampuan literasi digital.
Klinik Informasi Desa: Memberikan bimbingan teknis menulis dan pengambilan gambar bagi perangkat desa agar mampu mengelola saluran informasi mandiri.
Keberhasilan FORKOWAS menarik perhatian para tokoh jurnalis senior dari media besar seperti RCTI, MNC Media, Detik.com, hingga Pikiran Rakyat. Dalam testimoni bertajuk "Ini Soal Forkowas, Kata Insan Pers", mereka menekankan satu pesan kunci: Profesionalisme.
"Semoga semakin eksis, semakin profesional, dan tetap jaga kode etik jurnalis," ujar salah satu wartawan senior nasional dalam unggahan video ucapan selamat untuk FORKOWAS, Jumat 27 Maret 2026.
Di tengah dinamika media digital yang kian deras, Azis Abdullah menegaskan bahwa FORKOWAS akan tetap teguh pada prinsip utamanya. Baginya, organisasi ini bukan sekadar wadah profesi, melainkan corong aspirasi.
"Kami akan terus menjaga kekompakan dan marwah profesi dengan satu prinsip utama: mengutamakan kepentingan masyarakat di atas segalanya,"tegas Aziz
Sebagai penutup perjalanan panjang ini, Azib memberikan pesan dalam bentuk untaian kata mutiara bagi insan pers yang terus berjuang di garis depan:
"Di era di mana kecepatan sering kali mengalahkan kebenaran, biarlah nurani jurnalis menjadi jangkar yang menjaga kapal informasi tetap pada jalur fakta. Menjadi jurnalis 'Santri' berarti menulis dengan kecerdasan intelektual, namun tetap merunduk dengan kerendahan hati spiritual."
"Empat belas tahun FORKOWAS adalah bukti bahwa berita terbaik bukanlah yang sekadar mendapatkan klik terbanyak, melainkan yang mampu membawa perubahan nyata bagi mereka yang tak bersuara. Karena pada akhirnya, pena adalah pedang bagi ketidakadilan dan jembatan bagi harapan masyarakat."pungkas Azis..
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....