Misteri Burung Kedasih: Fakta atau Mitos Kematian?

  • 24 Mar 2026 11:56 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Burung kedasih atau incuing (Cacomantis merulinus) merupakan burung yang cukup intens dijumpai oleh masyarakat di alam. Sebab suaranya yang melengking, di berbagai budaya burung ini menjadi pertanda akan adanya seseorang yang meninggal.

Dalam kajian ornitologi, kedasih justru jauh dari Kesan mistis karena strategi reproduksinya yang tidak lazim. Alih-alih membangun sarang sendiri, kedasih menitipkan telurnya pada sarang burung lain, sebuah strategi yang dikenal sebagai brood parasitism.

Publikasi jurnal Avian Research (2019) tentang perkembangan anak kedasih menunjukkan hubungan ekologis yang menarik antara kedasih dan burung inangnya. Dalam studi tersebut dijelaskan burung incuing sering menggunakan sarang burung penjahit untuk mengerami telur dan membesarkan anak kedasih.

Kajian Avian Research (2016) mencatat tingkat penumpangan telur mencapai lebih dari tiga puluh persen. Penelitian ini memperlihatkan bagaimana strategi reproduksi tersebut berkembang sebagai hasil adaptasi ekologis jangka panjang.

Fenomena ini disalahpahami sebagai perilaku kejam, padahal dalam evolusi strategi tersebut merupakan cara bertahan yang terbentuk ribuan generasi. Anggota kukuk mengembangkan pola serupa untuk keberhasilan reproduksi tanpa harus menginvestasikan energi besar dalam pembuatan sarang dan pengasuhan.

Di sisi lain, kedasih juga memiliki peran ekologis yang bermanfaat bagi lingkungan. Incuing memakan ulat dan hama tanaman, sehingga membantu ekosistem pertanian dan dianggap sebagai sahabat alami bagi para petani.

Kajian bioakustik juga menambah pemahaman tentang perilaku burung ini. Jurnal Biodiversitas (2025) menunjukkan incuing memiliki pola komunikasi cukup kompleks, terutama dalam mempertahankan wilayah dan menarik pasangan.

Sayangnya, di sejumlah wilayah di Indonesia burung ini kerap dikaitkan dengan mitos sebagai pertanda kematian. Suara kedasih yang sendu membuat masyarakat menghubungkannya dengan kejadian duka, padahal tidak ada bukti ilmiah untuk anggapan tersebut.

Tulisan lain juga mengulas mitos serupa sekaligus menjelaskan persepsi tersebut berkaitan dengan tradisi lisan dan pengalaman subjektif masyarakat. Suara yang muncul saat sunyi memicu asosiasi emosional, sehingga yang seharusnya netral kemudian memperoleh makna simbolik dalam budaya.

Fenomena pemberian makna simbolis pada burung kukuk sebenarnya terjadi di banyak budaya. Di Eropa, cuckoo menandakan datangnya musim semi, sedangkan dalam sastra Jepang burung hototogisu ini melambangkan kerinduan yang puitis.

Dengan demikian, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa burung incuing atau kedasih berkaitan dengan pertanda kematian manusia. Sebaliknya, burung ini merupakan bagian penting dari ekosistem, memiliki strategi hidup yang unik, serta memperkaya lanskap suara alam.

Menjaga habitat burung incuing berarti menjaga keberlanjutan kehidupan liar yang membuat langit tetap hidup oleh kehadiran burung-burung. Lantas, masihkah kita akan mengaitkan burung ini dengan pertanda buruk, atau melihat incuing sebagai perspektif baru yang menarik?

Penulis : Sonia Permata Surya

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....