Studi Ungkap Konsumsi Gorengan Selama Ramadan

  • 18 Feb 2026 10:03 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Penelitian terbaru mengungkap tingginya konsumsi gorengan selama Ramadan meski masyarakat sadar risiko kesehatannya.

Dikutip dari Journal of Holistic and Health Sciences atau Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan, Rabu 18 Februari 2026. Melalui studi berjudul Persepsi Kesehatan dan Perilaku Konsumsi Gorengan Selama Bulan Ramadan yang dilakukan peneliti bidang gizi.

Penelitian ini dilakukan oleh Restu Amalia Hermanto, Listhia Hardiati Rahman, dan Rifka Hanny dari Program Studi S1 Ilmu Gizi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik serta Program Studi Gizi Fakultas Pertanian Universitas Tidar.

Studi bertujuan menggambarkan perilaku konsumsi sekaligus persepsi kesehatan masyarakat terhadap gorengan selama Ramadan, mengingat makanan tersebut populer namun berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bila dikonsumsi berlebihan secara rutin.

Metode yang digunakan berupa desain deskriptif eksplorasi kuantitatif dengan melibatkan 186 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling, menggunakan instrumen survei terkait karakteristik demografis, pola konsumsi, alasan, serta persepsi dampak kesehatan.

Hasil penelitian menunjukkan 48,9 persen responden memperoleh gorengan dengan membuat sendiri, sementara 59,1 persen mengeluarkan biaya Rp5.000 hingga Rp10.000 setiap kali membeli untuk kebutuhan berbuka puasa selama Ramadan berlangsung.

Sebanyak 93,5 persen responden mengonsumsi gorengan saat berbuka puasa, dengan jumlah rata rata 3 hingga 5 buah sekali makan, serta jenis paling populer yakni bakwan atau bala bala, tempe mendoan, dan tahu isi.

Mayoritas responden menilai gorengan memiliki rasa enak, aroma menggugah selera, praktis, mudah diperoleh, dan cukup mengenyangkan, sehingga menjadi pilihan favorit sebagai menu pembuka puasa di berbagai kalangan masyarakat.

Di sisi lain, 95,2 persen responden menyadari konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit, dan 81,2 persen memahami pentingnya pola makan seimbang selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Namun demikian, lebih dari separuh responden atau 54,3 persen menganggap gorengan dapat menjadi pengganti makanan utama, menunjukkan adanya persepsi yang berpotensi memengaruhi kualitas asupan gizi harian.

Peneliti menyimpulkan gorengan tetap dominan dikonsumsi karena faktor rasa, tekstur, harga terjangkau, serta kemudahan akses, meski terdapat kesenjangan antara pengetahuan gizi dan praktik konsumsi masyarakat selama Ramadan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....