Egrang: Warisan Budaya dan Seni Menjaga Keseimbangan
- 28 Jan 2026 19:41 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Egrang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jajangkungan di Jawa Barat, merupakan salah satu warisan permainan tradisional yang masih lestari hingga saat ini. Secara etimologi, istilah jajangkungan berasal dari kata bahasa Sunda, yaitu "jangkung" yang berarti tinggi.
Dengan demikian, jajangkungan dapat diartikan secara harfiah sebagai sebuah permainan yang membuat seseorang menjadi lebih tinggi dari ukuran aslinya saat memainkannya.
Konstruksi alat permainan ini cukup sederhana namun memerlukan ketelitian dalam pembuatannya. Egrang menggunakan dua batang bambu panjang sebagai tiang utama, yang masing-masing dilengkapi dengan pijakan kaki dari bilah bambu yang lebih kecil.
Pijakan tersebut dipasang secara horizontal dan diikat dengan sangat kuat agar mampu menahan beban tubuh. Menariknya, ketinggian pijakan ini bersifat fleksibel, dapat disesuaikan dengan keinginan, tingkat keberanian, serta tinggi badan pemainnya.
Aspek utama yang diuji dalam permainan ini adalah keseimbangan dan koordinasi tubuh. Karena cara penggunaannya menyerupai orang yang sedang berjalan, pemain dituntut untuk menjaga stabilitas tubuh agar tetap tegak dan tidak terjatuh saat melangkah.
Setiap gerakan kaki bambu harus selaras dengan ayunan tangan yang memegang tiang, sehingga menciptakan irama jalan yang harmonis sekaligus menantang ketangkasan fisik sang pemain.
Meskipun sering dianggap sebagai mainan anak-anak untuk mengisi waktu senggang, egrang sebenarnya memiliki peminat yang luas hingga ke kalangan dewasa.
Di berbagai festival budaya atau perayaan kemerdekaan, balap egrang sering kali menjadi atraksi yang paling dinanti karena keseruannya. Hal ini membuktikan bahwa egrang bukan sekadar alat bermain, melainkan simbol ketangguhan dan keceriaan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.
Jauh sebelum menjadi objek perlombaan, egrang memiliki fungsi praktis yang sangat fungsional bagi masyarakat masa lalu. Pada zaman dahulu, egrang dimanfaatkan sebagai alat transportasi sederhana untuk membantu mobilitas sehari-hari.
Warga sering menggunakannya untuk pergi ke masjid atau melintasi area yang becek dan berlumpur agar pakaian serta kaki mereka tetap bersih. Fungsi historis ini menunjukkan betapa kreatifnya masyarakat Jawa Barat dalam memanfaatkan bambu untuk mempermudah kehidupan mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....