Ngeliwet, Tradisi Sunda Perekat Kebersamaan Lintas Generasi
- 26 Jan 2026 19:46 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Bagi masyarakat Jawa Barat, ngeliwet bukan sekadar tradisi makan bersama. Di balik sajian nasi hangat yang dibentangkan di atas daun pisang, lengkap dengan lauk sederhana seperti asin peda dan sambal terasi, tersimpan nilai budaya yang merefleksikan jati diri masyarakat Sunda.
Berdasarkan jurnal kebudayaan yang dirilis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, ngeliwet memiliki makna filosofis tentang kesetaraan dan kebersamaan.
Seluruh peserta duduk bersila pada posisi yang sama, menyantap hidangan dari alas daun pisang yang sama, tanpa pembeda status sosial.
Dalam tradisi ini, tidak ada jarak antara atasan dan bawahan, maupun antara mereka yang berbeda latar belakang ekonomi.
Nilai kebersamaan tersebut telah terbangun sejak tahap persiapan. Proses memasak dilakukan secara gotong royong, mulai dari mencari kayu bakar, menyiapkan daun pisang, hingga meracik bumbu dan lauk. Aktivitas kolektif ini menjadi simbol kuat solidaritas dan kerja sama antaranggota masyarakat.
Dari sisi psikologis, kebiasaan makan bersama seperti ngeliwet juga dinilai mampu meredakan stres dan meningkatkan rasa bahagia. Suasana santai yang tercipta membuka ruang komunikasi yang lebih akrab dan jujur.
Tak jarang, persoalan atau konflik sosial dapat diselesaikan secara sederhana melalui dialog hangat di atas hamparan daun pisang.
Dengan nilai sosial dan budaya yang dikandungnya, ngeliwet tetap relevan sebagai sarana mempererat silaturahmi di tengah kehidupan masyarakat modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....