Pesona Rita Tila dalam Magis Pagelaran Wanda Sunda
- 20 Jan 2026 17:27 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Malam minggu di pusat Kota Bandung mendadak berubah menjadi panggung nostalgia yang megah. Ballroom éL Hotel Royale, yang dahulu dikenal sebagai Grand Royal Panghegar, menjadi saksi bisu betapa kekayaan budaya Sunda tak pernah lekang oleh waktu. Pada Sabtu malam, 17 Januari 2026, Imah Seni Parahyangan menyuguhkan sebuah pertunjukan bertajuk "Pagelaran Wanda Sunda" yang berhasil memukau ratusan pasang mata yang hadir.
Bintang utama malam itu, Rita Tila, tampil dengan aura yang luar biasa dalam balutan Sinden Ngalage. Begitu naik ke atas panggung, ia langsung menyihir penonton lewat lagu "Torotot Heong" yang disambung dengan "Naek Botol Kecap". Suara merdunya yang melengking khas, dipadukan dengan cengkok yang matang, membuktikan kelasnya sebagai salah satu maestro sinden modern saat ini.
Tidak hanya mengandalkan vokal, Rita Tila juga menunjukkan kepiawaiannya dalam menari. Gerakannya begitu luwes namun tetap memancarkan energi yang kuat, seirama dengan ketukan kendang dan tabuhan gamelan yang dinamis.
Kemeriahan pagelaran ini semakin lengkap dengan suguhan berbagai tarian klasik dan rakyat yang dibawakan dengan penuh penghayatan. Penonton dibawa berkelana melintasi filosofi budaya Sunda melalui Tari Badaya yang anggun, Tari Merak yang penuh warna, hingga Tari Topeng yang sarat makna.
Sisi emosional penonton pun tersentuh saat menyaksikan Tari Metik Teh dan Gondang. Tarian ini bukan sekadar gerak estetis, melainkan sebuah potret hidup masyarakat agraris di tanah Pasundan.
Namun, ada satu hal unik yang menjadi ruh utama dari pergelaran malam itu, yaitu profil para penarinya. Panggung Wanda Sunda didominasi oleh para ibu yang telah memasuki usia emas, dengan rata-rata usia di atas 50 tahun. Fenomena ini memberikan pesan kuat bahwa seni tidak mengenal batas usia, kecintaan pada budaya adalah bahan bakar yang membuat raga tetap bugar meski waktu terus berjalan.
Meski rambut mungkin telah memutih dan usia tak lagi muda, semangat yang terpancar dari para penari senior ini justru tampak lebih menyala dibanding penari remaja. Kedisiplinan mereka dalam membawakan Tari Ketuk Tilu hingga Jaipongan menunjukkan bahwa dedikasi terhadap seni adalah abadi. Malam itu, Imah Seni Parahyangan bukan sekadar menggelar tontonan, melainkan merayakan semangat hidup yang terus berkobar melalui gerak dan lagu Sunda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....