Mengenal Sekilas Para Pahlawan asal Jawa Barat

  • 18 Des 2025 10:52 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung. Perjuangan merebut kemerdekaan tidak mudah. Harus ditebus dengan pengorbanan harta dan nyawa.

Begitupun para pahlawan yang berasal dari Jawa Barat, harus kita hormati dan banggakan karena telah berkorban membela bangsa demi Indonesia merdeka dan berdaulat.

Berikut beberapa nama pahlawan nasional berasal dari Jawa Barat :

1. Dewi Sartika

Pahlawan wanita dari Jawa Barat adalah Dewi Sartika. Pada tahun 1884, dia lahir di Cicalengka. Dia wafat di Tasikmalaya pada tahun 1947. Dia merupakan anak perempuan R.A. Rajapermas dan R. Rangga Somanegara. Sejumlah kota menggunakan namanya sebagai nama jalan.

Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan dunia pendidikan. Dia ingin menjadi seorang guru. Karena itu, pada tahun 1904, dia membuka sekolah perempuan di Bandung.

Dia orang pertama yang memelopori pendidikan perempuan dengan membuka sekolah khusus wanita di masa Hindia Belanda. Dalam waktu 10 tahun, di Jawa Barat, ada 9 Sakola Isteri.

2. Djoeanda Kartawidjaja

Djoeanda Kartawidjaja lahir di Tasikmalaya. Dia menempuh pendidikan di Holland Indlandsch School (HIS). Ayahnya juga mengajar di sekolah tersebut. Dia juga pernah menempuh pendidikan di ITB dan dinyatakan lulus pada tahun 1933.

Dia dikenal dengan Deklarasi Djoeanda. Deklarasi tersebut menjelaskan tentang wilayah kedaulatan maritim Indonesia. Disebutkan dalam deklarasi bahwa struktur kepulauan Indonesia membuatnya mempunyai karakter serta pola geografis yang unik. Lewat deklarasi tersebut, laut di antara pulau-pulau diakui sebagai bagian dari Indonesia.

3. Raden Otto Iskandardinata.

Ada jalan Otista di sekitar kota Bandung. Otista diambil dari nama lengkap Otto Iskandardinata, seorang pahlawan nasional. Nama pahlawan ini digunakan sebagai nama jalan. Ia disebut Si Jalak Harupat karena bersikap jujur serta berani. Julukan ini digunakan sebagai nama stadion di Kabupaten Bandung.

Beliau lahir di Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat, pada 31 Maret 1897 dan meninggal dunia di Mauk, Tangerang, Banten, pada 20 Desember 1945. Dia memiliki ayah yang menjabat sebagai kepala desa dan merupakan keturunan bangsawan.

Dia bersekolah di Sekolah Guru Atas. Lalu, di Hollandsch Inlandsche School Banjarnegara, dia bekerja sebagai pengajar. Setelah itu, dia dimutasi ke Bandung pada tahun 1920. Lima tahun setelah itu, dia dimutasi lagi untuk mengajar di Pekalongan. Selain itu, dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara.

4. Suwarsih Djojopuspito

Tokoh ini lahir di Bogor pada tahun 1912. Dia menggunakan tiga bahasa ketika menulis novel-novelnya. Selain bahasa Sunda, dia juga menggunakan bahasa Belanda dan Indonesia. Ayahnya adalah seorang yang buta huruf. Tetapi, ayahnya bisa menjadi seorang dalang wayang kulit menggunakan tiga bahasa, yaitu Indonesia, Sunda, dan Jawa.

Di Sekolah Dasar Dai-ichi Menteng, dia bekerja sebagai pengajar. Meskipun sempat berhenti mengajar, dia aktif menulis buku. Pada tahun 1977, dia meninggal dunia dan dimakamkan di Pemakaman Taman Siswa Taman Wijayabrata yang berada di Celeban, Umbulharjo – Yogyakarta.

5. Raden Ayu Lasminingrat

Raden Ayu Lasminingrat merupakan anak perempuan dari seorang ahli sastra dari Pasundan. Pada tahun 1907, dia mendirikan Sakola Kautamaan Istri. Tetapi, pada saat itu, sekolah ini hanya diperuntukkan untuk perempuan yang berasal dari kaum terpandang saja.

Dia pandai menggunakan bahasa Belanda. Kemampuannya itu memperoleh pengakuan dari K.F. Holle, pengelola perkebunan asal Belanda. Lasminingrat bisa menerjemahkan cerita-cerita Grimm bersaudara. Warna Sari adalah karya tulisnya yang terkenal. Warna Sari menceritakan tentang tekad seorang perempuan yang memperjuangkan haknya.

6. Raden Siti Jenab

Dari rumah ke rumah, Raden Siti Jenab memperkenalkan pendidikan perempuan di Cianjur. Dia pernah bersekolah di Sekolah Raden Dewi. Dia mendirikan sekolah di Cianjur yang menerapkan metode yang mirip dengan sekolahnya dulu.

Kurikulum yang diajarkan di sekolah ini meliputi bahasa Belanda, Matematika Dasar, budi pekerti, bahasa Melayu, bahasa Sunda, dan edukasi praktis, seperti merenda dan membatik.

7. Iwa Koesoema Soemantri

Iwa Koesoema Soemantri lahir pada tahun 1899 dan meninggal pada tahun 1971 di Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata. Dia adalah seorang ahli hukum dan pengarang. Dia pernah menjadi menteri di Indonesia. Selain itu, dia juga ditunjuk sebagai Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) yang pertama. Sehingga, namanya digunakan sebagai nama kampus di Unpad.

8. Achmad Soebardjo

Tokoh pahlawan lainnya adalah Achmad Soebardjo. Dia pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama dan diplomat. Dia lahir pada tahun 1896 di Karawang. Dia meninggal pada tahun 1978.

9. RE Martadinata

RE Martadinata berasal dari Bandung, Jawa Barat. Dia lahir di Lengkong Besar, Bandung pada tanggal 29 Maret 1921. Cita-cita masa kecilnya adalah menjadi pelaut. Oleh karena itu, dia berhenti menjadi guru di Sekolah Tinggi Pelayaran (STP) di Jakarta pada tanggal 1 September 1944 untuk menjadi Nakhoda Kapal Latih Dai 28 Sakura Maru. Ia ditugasi untuk membentuk Mahkamah Agung pada tahun 1945. Dia ditunjuk sebagai Ketua MA yang pertama. Sebagai Ketua MA, dia membentuk sistem yudikatif dan melakukan pembagian tugas pengadilan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....