7 Cara mengenalkan Permainan Tradisional kepada Anak

  • 27 Nov 2025 10:13 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Di tengah derasnya arus teknologi, banyak orang tua dibuat heran melihat anak lebih responsif terhadap suara notifikasi dibanding riuh tawa saat berlari di halaman rumah. Padahal, sebelum gawai menjadi “teman bermain” utama, permainan tradisional adalah sumber kegembiraan yang tak pernah habis berlari tanpa takut lecet, bermain tanpa hitungan baterai, dan pulang hanya setelah dipanggil berulang kali.

Mengutip dari laman suarabersama, nostalgia itu sebenarnya bisa kembali dihidupkan. Orang tua tidak perlu memaksa anak menjauhi gawai; cukup mengenalkan permainan tradisional dengan cara yang menyenangkan dan alami. Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba:

1. Mulai dengan Cerita yang Mengundang Rasa Ingin Tahu

Anak suka cerita, terutama ketika dimulai dengan kalimat, “Waktu Ayah atau Ibu kecil, mainnya seru banget…”.

Lewat cerita, gambarkan bagaimana serunya berlompat tali atau menahan napas saat main gobak sodor. Buat anak penasaran terlebih dahulu agar ide bermain muncul dari mereka sendiri.

2. Pilih Permainan yang Mudah dan Cepat Dipahami

Tidak perlu langsung mengenalkan permainan yang membutuhkan banyak pemain atau strategi rumit. Mulailah dari yang sederhana seperti congklak, engklek, atau lompat tali.

Ketika anak merasa cepat menguasai permainan pertama, mereka akan lebih bersemangat mencoba permainan lainnya.

3. Peragakan Langsung, Jangan Hanya Menjelaskan

Penjelasan panjang sering kali membuat anak bingung. Ajak mereka langsung mempraktikkan.

Misalnya, gambar kotak engklek di halaman menggunakan kapur, lalu tunjukkan cara bermainnya. Ketika orang tua ikut terlibat, anak melihat permainan tradisional sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan sesuatu yang kuno.

4. Libatkan Teman Sebaya

Permainan tradisional akan jauh lebih hidup jika dimainkan bersama. Undang tetangga, sepupu, atau teman sekolah anak.

Saat mereka merasakan keseruan berlari bersama, menyusun strategi, dan saling tertawa, permainan tradisional akan terasa relevan dan menghibur, seperti bermain congklak atau bermain kelereng.

5. Biarkan Anak Belajar dari Prosesnya

Berbeda dari gim digital yang menyediakan petunjuk lengkap, permainan tradisional menuntut anak untuk mencoba, gagal, dan mengulang.

Jangan terlalu cepat mengoreksi. Biarkan mereka merasakan pengalaman belajar tanpa tekanan. Dengan begitu, mereka memahami bahwa permainan tradisional adalah ruang eksplorasi, bukan perlombaan.

6. Jadikan Kebiasaan, Bukan Sekadar Momen Nostalgia

Agar permainan tradisional tidak cepat dilupakan, buat jadwal rutin bermain.

Misalnya “Sabtu Main Engklek” atau “Minggu Pagi Bentengan”. Ketika menjadi rutinitas, anak akan menganggap permainan tradisional sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar cerita masa lalu orang tua.

7. Sampaikan Nilai Positif yang Mereka Peroleh

Tanpa terkesan menggurui, selipkan penjelasan bahwa permainan tradisional mengajarkan banyak hal seperti kerja sama, strategi, keberanian, hingga kesabaran.

Anak akan merasa bahwa permainan itu bukan hanya seru, tetapi juga membuat mereka berkembang.

Pada akhirnya, memperkenalkan permainan tradisional bukan hanya usaha menghidupkan kenangan masa kecil, melainkan cara memberikan pengalaman yang tidak bisa disediakan layar digital.

Tidak ada notifikasi, tidak ada level yang harus diselesaikan hanya tawa, gerakan, dan momen sederhana yang kelak akan menjadi kenangan paling hangat bagi mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....