Tren FOMO Meningkat di Kalangan Anak Muda, Apa Penyebabnya?
- 27 Jan 2025 11:56 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Belakangan ini, istilah FOMO atau Fear of Missing Out semakin populer di kalangan anak muda, terutama di media sosial. Istilah ini menggambarkan perasaan cemas atau takut kehilangan pengalaman seru atau penting yang sedang dialami orang lain.
Tren ini kini menjadi fenomena yang kian meresap dalam kehidupan sehari-hari anak muda, memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka.
FOMO semakin meluas seiring dengan pesatnya penggunaan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, yang memungkinkan setiap orang untuk membagikan momen mereka secara langsung.
Anak muda yang aktif di media sosial sering kali merasa terasing atau tertinggal ketika melihat teman-temannya berbagi foto atau video tentang kegiatan seru yang mereka ikuti, sementara mereka sendiri merasa tidak terlibat.
“Lihat teman-teman saya liburan ke luar negeri atau nongkrong di kafe hits, saya jadi merasa harus ikut juga biar nggak ketinggalan,” ujar Ardi, seorang mahasiswa di Bandung. "Kalau nggak ikut, rasanya ada yang kurang, bahkan bisa bikin saya merasa nggak up-to-date."
Menurut para ahli psikologi, FOMO dapat berhubungan dengan perasaan cemas dan kebutuhan untuk terus terhubung dengan lingkungan sosial, yang sekarang hampir sepenuhnya tergantung pada dunia maya.
"Media sosial menciptakan ekspektasi bahwa kita harus selalu hadir dalam setiap peristiwa atau tren agar tidak merasa terpinggirkan," kata Dr. Lisa Rini, seorang psikolog dari Universitas Bandung.
Meski terlihat sepele, FOMO dapat berdampak cukup besar pada kesehatan mental anak muda. Rasa cemas yang berlebihan untuk selalu terlibat dalam segala sesuatu dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, bahkan menurunkan rasa percaya diri.
Tak jarang, beberapa anak muda merasa tertekan untuk menghabiskan uang demi mengikuti tren atau berpartisipasi dalam acara yang sebenarnya tidak mereka nikmati.
Namun, tidak semua dampak dari FOMO bersifat negatif. Beberapa anak muda menganggap FOMO sebagai pemicu untuk lebih aktif dalam bergaul dan berpetualang. Mereka merasa terdorong untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba pengalaman baru.
"FOMO kadang bikin saya jadi lebih semangat untuk mencari peluang baru atau mengeksplor hal-hal yang selama ini belum pernah saya coba," ujar Maya, seorang pekerja kreatif di Bandung.
Para ahli menyarankan agar anak muda dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak terjebak dalam perasaan takut ketinggalan. Salah satu cara untuk mengatasi FOMO adalah dengan lebih fokus pada kebahagiaan pribadi dan kegiatan yang benar-benar memberikan kepuasan batin, bukan hanya mengikuti tren yang ada.
Dengan semakin berkembangnya tren ini, penting bagi anak muda untuk menyadari bahwa tidak semua pengalaman orang lain harus menjadi tolok ukur kebahagiaan mereka.
Mengelola ekspektasi diri dan menjaga keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata adalah kunci untuk menghadapi fenomena FOMO dengan sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....