RRI Menjadi Korban Tragedi 30 September 1965

  • 01 Okt 2024 09:09 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Tragedi 30 September 1965 adalah masa kelam yang terjadi pada bangsa Indonesia. Dalam catatan sejarah, tanggal 30 September 1965 menjadi salah satu momen paling gelap dalam sejarah Indonesia, saat terjadi insiden yang dikenal dengan G30S/PKI. Peristiwa tersebut melibatkan penculikan dan pembunuhan tujuh perwira tinggi Angkatan Darat yang diduga merupakan bagian dari upaya kudeta oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Di tengah kekacauan ini, Radio Republik Indonesia (RRI) memegang peran penting dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.

RRI sebagai Media Utama pada 1965

Dilansir dari adegan film G 30 S PKI, bahwa Pada era 1960-an, radio merupakan salah satu media utama yang dimiliki negara untuk menyebarkan informasi. RRI menjadi pusat informasi bagi masyarakat luas, terutama dalam situasi genting seperti peristiwa 30 September 1965. Sebagai lembaga penyiaran milik negara, RRI memiliki jaringan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, menjadikannya sumber berita terpercaya.

Bila kita menonton pada Film Penghianatan G 30 S PKI, pada adegan awal memperlihatkan scene radio yang bersuarakan dari Radio Republik Inonesia tengah memberitakan situasi dan keadaan bangsa saat itu. Dalam film tersebut juga ketika peristiwa G30S terjadi, RRI digunakan oleh kelompok Gerakan 30 September untuk menyampaikan berita yang mendukung narasi mereka. Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, RRI Jakarta menyiarkan pengumuman dari kelompok tersebut, yang menyatakan bahwa Dewan Jenderal, sebuah istilah yang mereka ciptakan untuk merujuk pada para perwira tinggi Angkatan Darat, telah melakukan upaya kudeta yang mereka klaim sebagai bentuk penyelamatan negara. Pengumuman ini membingungkan masyarakat, yang belum mengetahui sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, tak lama setelah itu, pihak militer yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto berhasil mengambil alih RRI dan mengendalikan penyiaran. Melalui siaran RRI, Soeharto mengumumkan bahwa gerakan tersebut adalah upaya kudeta oleh PKI.

Peran RRI dalam menyebarkan informasi yang tepat waktu menjadi krusial dalam momen genting tersebut. Setelah berhasil direbut kembali, RRI memastikan bahwa narasi yang mendukung pemerintahan di bawah kontrol militer disiarkan, yang membantu memuluskan jalan bagi tindakan militer selanjutnya.

Refleksi Sejarah

Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi media, termasuk RRI, tentang betapa besar pengaruh penyebaran informasi dalam situasi genting. Di era digital saat ini, dengan berbagai platform media yang tersedia, refleksi atas peran media tradisional seperti RRI tetap relevan dalam menjaga integritas dan keakuratan informasi di tengah peristiwa bersejarah.





Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....