Bandung Sustainability Summit Bahas Insfrastruktur Tata Ruang Berkelanjutan
- 06 Nov 2025 14:18 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Persoalan ketimpangan tata ruang kota dan solusi insfrastruktur yang berkelanjutan, dibahas dalam Bandung Sustainability Summit (BSS) 2025. Forum kolaboratif yang digelar Suvarna Sustainability bersama Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Pemerintah Kota Bandung, merupakan gagasan untuk mengimplementasikan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
BSS 2025 dilaksanakan 6-7 November di Aula ITB, mendiskusikan pola Sustainability Pemerintah, akademisi dan Industri. Pemkot Bandung menyatakan dihadapkan pada tantangan serius mulai dari ketimpangan tata ruang, persoalan penumpukan sampah, serta perubahan karakter lingkungan akibat perbedaan elevasi wilayah.
Di tengah kompleksitas tersebut, muncul kesadaran baru tentang arah pembangunan kota yang tidak hanya bersifat reaktif, melainkan berbasis keberlanjutan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan, upaya tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi langkah nyata untuk membangun fondasi pembangunan yang tidak terputus meskipun kepemimpinan berganti. Ia menilai, keberlanjutan harus menjadi struktur dasar dalam kebijakan kota, bukan sekadar agenda politik sesaat.
“Apapun yang kita buat di Kota Bandung ini harus memiliki keberlanjutan, dan keberlanjutan itu harus struktural sehingga siapapun nanti yang mengelola Kota Bandung tetap melanjutkan konsep pembangunan yang berkelanjutan,” kata Farhan di Aula Barat ITB Bandung, Kamis (6/11/2025).
Menurutnya, Bandung Sustainability Summit hadir untuk menjadikan keberlanjutan bukan hanya prinsip moral, tetapi alat ukur yang konkret. Ia mengawali fokus pada sektor infrastruktur dengan mengajak ITB menjadikan wilayah-wilayah di Bandung sebagai living laboratorium hidup tempat riset dan implementasi kebijakan bertemu.
Inisiatif tersebut juga sejalan dengan program Prakarsa Utama. Ia menyimpulkan, setiap pemukiman di Bandung memiliki permasalahan khas, dari tata air hingga pengelolaan lingkungan. “Solusi dari 1.597 RW ini harus dijahit dalam sebuah bentuk kesinambungan yang berjalan baik,” tuturnya.
Farhan menyoroti pula kondisi geografis Bandung yang unik, dari kawasan Punclut di ketinggian 1.100 meter hingga Cimencrang di 680 meter di atas permukaan laut, yang menciptakan tantangan berbeda dalam hidrometeorologi dan tata ruang. Di samping itu, isu pengelolaan sampah menjadi contoh nyata Sustainability
keberlanjutan harus diwujudkan secara sistemik.
"Sampah di wilayah Ciwastra dan Gedebage didominasi sampah organik, sementara di Cigondewah masalahnya lebih banyak berasal dari limbah tekstil dan plastik. Oleh karena itu, sistem keberlanjutan yang memastikan bahwa penyelesaian yang kita lakukan itu bukan sekedar penyelesaian jangka pendek,” ujar Farhan.
Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, melihat Bandung Sustainability Summit sebagai kelanjutan dari semangat Bandung yang dulu dikenal sebagai kota Asia-Afrika. Kini, kata Tatacipta, semangat itu dihidupkan kembali dalam konteks baru, yakni keberlanjutan.
“Bandung Sustainability Summit ini melanjutkan spirit Bandung. Dulu Bandung pernah jadi kota Asia Afrika. Nah, sekarang ini mau menghadirkan ide tentang keberlanjutan,” ucap Tatacipta.
Ia menekankan, keberlanjutan tidak bisa dibangun sendirian. Dibutuhkan kerja sama erat antara akademisi, pemerintah, industri, masyarakat sipil, dan media untuk mewujudkannya.
Tatacipta berharap, dari forum tersebut akan lahir rencana aksi konkret yang dapat menjawab tantangan lingkungan dan pembangunan yang dihadapi Bandung. “Mudah-mudahan dari forum ini nanti muncul rencana aksi-rencana aksi yang tadi Pak Wali Kota sampaikan,” tambahnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....