Basah Kuyup, Kasatlantas Polresta Bandung Jalan Kaki 1 KM Cari Sumber Kemacetan

  • 23 Mar 2026 12:58 WIB
  •  Bandung
Poin Utama
  • "Kalau tidak dicek langsung, kita tidak akan tahu kondisi sebenarnya di lapangan,” tegas Ega.

RRI.CO.ID, Bandung - Hujan deras turun pada Sabtu 21 Maret 2026 malam. Di jalur timur arus mudik, ribuan kendaraan berhenti dalam diam, lampu rem menyala panjang seperti barisan tak berujung.

Di tengah situasi yang nyaris lumpuh itu, Kasat Lantas Polresta Bandung, Kompol Ega Prayudi memilih cara paling sederhana dan paling berat yaitu berjalan kaki. Bukan puluhan meter, tapi satu kilometer.

“Ya, kemarin di Nagrog terjadi kepadatan karena peningkatan volume kendaraan. Kita harus mencari trouble-nya di mana,” ujar Ega.

Namun mencari sumber kemacetan di tengah hujan bukan perkara mudah. Kendaraan dinas tak bisa bergerak leluasa. Sepeda motor pun terjebak di antara rapatnya arus kendaraan. Bahkan teknologi yang biasa diandalkan tak bisa membantu.

“Untuk mobil dan motor sudah tidak memungkinkan menjangkau. Drone yang biasa kita gunakan untuk mengecek ekor kemacetan juga tidak bisa difungsikan maksimal karena cuaca,” katanya.

Di titik itulah, keputusan diambil.

“Makanya saya berinisiatif jalan kaki agar saya mengetahui betul apa kendala yang ada di jalur,” ungkapnya.

Langkah itu dimulai dari kawasan SPBU hingga ke Nagrog. Di bawah guyuran hujan, ia menyusuri jalur padat kendaraan, menembus sela-sela mobil yang diam, memastikan setiap titik yang berpotensi menjadi penyebab kemacetan.

“Kurang lebih satu kilometer saya jalan. Dari bawah sampai Nagreg saya sisir,” ucapnya.

Hujan tak berhenti. Seragamnya basah. Namun langkah itu terus berlanjut.

“Dalam kondisi hujan, ya. Tapi memang harus dilakukan supaya kita tahu persis kondisi di lapangan,” tambahnya.

Setiap meter yang dilalui menjadi pencarian. Setiap kendaraan yang dilewati adalah kemungkinan. Apakah ada kecelakaan? Kendaraan mogok? Atau hambatan lain yang tak terlihat dari kejauhan? Jawabannya justru mengejutkan.

“Ternyata dari yang saya sisir, alhamdulillah nihil trouble. Tidak ada kendaraan mogok ataupun kecelakaan,” kata Ega.

Artinya, kemacetan panjang itu bukan karena insiden. Bukan karena gangguan teknis. Tapi karena satu hal yang tak terbantahkan, lonjakan volume kendaraan yang melampaui kapasitas jalan.

“Hanya memang saat itu volume kendaraan cukup tinggi,” ujarnya.

Temuan itu menjadi kunci untuk bertindak cepat. “Kita langsung laksanakan rekayasa lalu lintas dengan sistem one way,” jelasnya.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Kendaraan yang semula tak bergerak, mulai merayap. Arus yang tadinya terkunci, sedikit demi sedikit terurai.

Namun di balik perubahan itu, ada satu keputusan yang menjadi titik awal, langkah kaki sejauh satu kilometer di bawah hujan.

“Kalau tidak dicek langsung, kita tidak akan tahu kondisi sebenarnya di lapangan,” tegas Ega.

Malam itu, di tengah derasnya hujan dan panjangnya antrean kendaraan, langkah tersebut bukan sekadar upaya teknis. Tapi menjadi cara untuk memastikan bahwa setiap keputusan diambil dari apa yang benar-benar terjadi, bukan sekadar perkiraan.

Satu kilometer itu, pada akhirnya, bukan hanya jarak. Melainkan batas antara ketidakpastian dan kepastian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....