Optimisme UMKM Terjaga, BRI Proyeksikan Ekspansi Berlanjut
- 17 Sep 2026 18:05 WIB
- Bandung
Poin Utama
- PT BRI merilis Indeks Bisnis UMKM Q2-2026 dengan nilai 102,1, menunjukkan aktivitas bisnis UMKM masih berada pada fase ekspansif.
- Pelaku UMKM tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek usahanya ke depan di tengah dinamika daya beli yang ada.
- Terjaganya aktivitas bisnis UMKM ditopang oleh pertumbuhan ekonomi positif, panen raya tanaman pangan, harga produk pertanian yang baik, mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta, serta penyaluran bantuan sosial yang agresif.
RRI.CO.ID - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI merilis Indeks Bisnis UMKM Q2-2026 beserta proyeksi untuk Q3-2026. Hasil survei menunjukkan aktivitas bisnis UMKM masih berada pada fase ekspansif, dengan Indeks Bisnis UMKM tercatat sebesar 102,1. Di tengah dinamika daya beli, pelaku UMKM masih menunjukkan optimisme terhadap prospek usahanya ke depan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, terjaganya aktivitas bisnis UMKM pada Q2-2026 ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari perekonomian yang tetap tumbuh positif, panen raya tanaman pangan dan harga produk pertanian yang baik, mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta, kondisi cuaca yang kondusif, hingga penyaluran bantuan sosial yang tetap agresif.
Meski demikian, laju ekspansi mengalami perlambatan dibandingkan Q1-2026. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca-HBKN, pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, keterbatasan modal usaha, serta persaingan usaha yang semakin ketat. Perkembangan tersebut sejalan dengan moderasi pertumbuhan ekonomi pada Q2-2026.
“Prospek bisnis UMKM pada Q3-2026 diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif, meskipun lebih moderat, terutama ditopang oleh peningkatan proyek pemerintah dan swasta yang akan memberikan spillover effect terhadap sektor lainnya serta perekonomian yang tetap tumbuh. Di sisi lain, pelemahan daya beli dan El Nino menjadi faktor risiko yang perlu dicermati, khususnya bagi sektor pertanian,” ujar Hery.
Optimisme terhadap prospek usaha tersebut juga tercermin dari aktivitas investasi UMKM yang tetap tumbuh dengan indeks berada di atas 100. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah moderasi aktivitas bisnis, pelaku UMKM masih memiliki keyakinan terhadap prospek ekonomi dan keberlanjutan usahanya.
Dari sisi sektoral, pada Q2-2026 mayoritas sektor UMKM masih mencatatkan indeks di atas 100. Sektor pertanian, konstruksi, dan pertambangan mencatatkan penguatan, didorong oleh momentum panen raya dan harga jual produk pertanian yang baik, serta mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta yang didukung kondisi cuaca yang kondusif.
Sementara itu, kinerja sektor lainnya menunjukkan perkembangan yang lebih moderat. Industri pengolahan dan jasa-jasa lainnya masih berada pada fase ekspansif, meskipun mengalami perlambatan. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca-HBKN, pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, serta persaingan usaha yang semakin ketat.
Meski aktivitas pada Q2-2026 mengalami moderasi, prospek bisnis UMKM pada Q3-2026 masih menunjukkan arah yang positif. Aktivitas bisnis di semua sektor diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif, meskipun dengan laju yang lebih moderat. Sektor pertambangan dan konstruksi diperkirakan menjadi penopang seiring semakin banyaknya proyek pemerintah dan swasta yang bergulir.
Prospek tersebut sejalan dengan sentimen bisnis pelaku UMKM yang masih terjaga untuk tiga bulan mendatang. Indeks Ekspektasi sentimen bisnis pelaku UMKM untuk Q3-2026 tercatat sebesar 120,2. Level indeks yang cukup jauh di atas 100 menunjukkan optimisme yang masih kuat terhadap prospek ekonomi, sektor usaha, dan perkembangan usahanya ke depan.
Optimisme ini terlihat pada mayoritas sektor usaha. Sentimen bisnis masih berada di atas 100 pada sebagian besar sektor, dengan konstruksi mencatat kenaikan 7,4 poin menjadi 110,8 dan pertambangan meningkat 1,6 poin menjadi 108,3. Penguatan kedua sektor tersebut terutama didorong oleh bergulirnya proyek pemerintah dan swasta, peningkatan permintaan pasir, batu dan galian untuk bangunan, serta kondisi cuaca yang kondusif.
Selain optimisme terhadap prospek usaha, survei juga menunjukkan kepercayaan pelaku UMKM terhadap pemerintah tetap terjaga. Indeks Kepercayaan Pelaku UMKM terhadap Pemerintah (IKP) pada Q2-2026 tercatat sebesar 107,4, atau masih berada di atas 100. Penilaian tertinggi diberikan pada aspek memberikan rasa aman dan tenteram dengan indeks 130,4, disusul menyediakan dan merawat infrastruktur sebesar 116,5.
Hery menilai, keseluruhan hasil survei menunjukkan bahwa pelaku UMKM masih memiliki daya tahan di tengah moderasi aktivitas ekonomi. Meski menghadapi tekanan terhadap daya beli, kenaikan biaya usaha, serta persaingan yang semakin ketat, optimisme terhadap prospek usaha tetap menjadi modal penting bagi UMKM untuk menjaga keberlanjutan usaha dan menangkap peluang pertumbuhan.
“Kondisi ini menunjukkan pentingnya terus menjaga daya beli masyarakat, sekaligus menciptakan ruang bagi UMKM untuk berkembang. BRI akan terus mencermati dinamika tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung UMKM agar mampu menjaga keberlanjutan usaha dan menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” tutup Hery.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....