DPLH Pesawaran Tunggu Hasil Lab Ungkap Penyebab Puluhan Mangrove Mati di Gebang
- 29 Agt 2026 16:42 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Pesawaran: Puluhan pohon mangrove di kawasan Petengoran, pesisir Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, mengalami kematian. Penyebabnya belum diketahui. Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup (DPLH) Pesawaran masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel tanah yang diambil dari lokasi, Jum’at, 28 Agustus 2026.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DPLH Pesawaran, Andre, mengatakan tim gabungan telah meninjau kawasan tersebut pada 20 Agustus 2026. Tim terdiri atas DPLH Pesawaran, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, tim penegakan hukum (Gakkum), serta tim OPT.
“Kita sudah turun bersama DLH Provinsi, Gakkum, dan juga OPT pada 20 Agustus kemarin,” kata Andre.
Dari peninjauan itu, kerusakan diperkirakan terjadi pada puluhan batang mangrove. Luas area yang terdampak sekitar 170 meter persegi.
Untuk mencari penyebabnya, tim mengambil sampel tanah dari kawasan mangrove yang mengalami kerusakan. Sampel tersebut kini diperiksa di laboratorium.
“Jadi hasil sampel tanahnya sementara masih di lab. Mungkin hasilnya nanti baru diketahui penyebabnya, kematian itu nanti,” ujar Andre.
Menurut dia, kondisi lingkungan sekitar juga menjadi faktor yang perlu ditelusuri. Kawasan mangrove tersebut berada tidak jauh dari muara dan saat ini memasuki musim kemarau.
Andre mengatakan air pasang tidak langsung masuk ke kawasan mangrove karena alirannya melewati sisi area tersebut. Di sekitar lokasi juga terdapat aktivitas tambak udang.
“Di situ ada dua tambak udang,” katanya.
Selain tambak, tim menemukan indikasi aktivitas penimbunan atau pengolahan bahan bakar minyak (BBM) di bagian depan kawasan tambak. Namun, DPLH belum menyimpulkan apakah aktivitas tersebut berkaitan dengan kematian mangrove.
Sebab, aliran air dari sejumlah kawasan di sekitar lokasi bermuara ke sungai yang berada di sekitar kawasan mangrove. Aliran tersebut, kata Andre, antara lain melewati sisi tambak udang.
“Semua aliran sungainya mengarah ke situ. Ada lewat samping tambak udang,” ujarnya.
Aliran air juga berasal dari kawasan permukiman warga di bagian atas sebelum bergerak menuju hilir.
Karena itu, DPLH belum dapat memastikan penyebab kematian mangrove hanya berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Pemeriksaan laboratorium dinilai penting untuk mengetahui kondisi sampel tanah dan menelusuri kemungkinan faktor yang memicu kerusakan.
Andre memperkirakan hasil pemeriksaan dapat diketahui sekitar 12–14 hari sejak sampel dan dokumentasi lapangan diserahkan kepada pihak yang melakukan pemeriksaan.
“Kalau hasilnya tinggal tunggu dari UPT,” katanya.
Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar bagi DPLH untuk menentukan penyebab kematian mangrove sekaligus langkah penanganan terhadap kerusakan kawasan pesisir Desa Gebang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....