Pemerintah Pusat dan Pemprov Lampung Percepat Pengembangan Industri Bioetanol

  • 09 Jun 2026 17:44 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Lampung Selatan: Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Lampung mempercepat pengembangan industri bioetanol nasional dengan meninjau langsung calon lokasi pembangunan pabrik bioetanol dan kawasan pengembangan bahan baku sorgum di Provinsi Lampung, Selasa 9 Juni 2026.

Peninjauan dipimpin Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM RI Todotua Pasaribu bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal usai menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinergitas Pembangunan Pabrik Bioetanol di Ruang VVIP Lounge Bandara Raden Inten II, Lampung Selatan.

Rombongan yang terdiri dari jajaran Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Tsusho Corporation, Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PTPN, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya meninjau lokasi calon pembangunan pilot plant bioetanol di Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, dan kawasan pengembangan budidaya sorgum di Kecamatan Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan.

Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan, ketersediaan bahan baku, dukungan infrastruktur, serta integrasi kawasan yang akan menjadi bagian dari pengembangan ekosistem industri bioetanol di Lampung.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Todotua Pasaribu menegaskan Lampung menjadi salah satu daerah prioritas dalam pengembangan bioetanol nasional. Menurutnya, provinsi ini memiliki keunggulan strategis berupa ketersediaan bahan baku yang melimpah, infrastruktur yang memadai, serta komitmen pemerintah daerah dalam mendukung investasi.

Ia menjelaskan kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan terus meningkat seiring rencana implementasi program campuran E10 bioetanol pada bahan bakar bensin yang ditargetkan mulai diterapkan secara bertahap pada 2028. Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan industri bioetanol guna memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

“Kita tidak boleh hanya berhenti pada perencanaan. Yang dibutuhkan sekarang adalah eksekusi agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” kata Todotua.

Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut pembangunan industri bioetanol sebagai langkah strategis untuk mendorong hilirisasi sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurutnya, Lampung memiliki modal besar untuk menjadi pusat bioetanol nasional karena merupakan salah satu lumbung pangan Indonesia dengan produksi padi, jagung, ubi kayu, pisang, kopi, serta komoditas perkebunan dan peternakan yang besar. Hampir enam juta penduduk Lampung menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Rahmat mengatakan perbaikan tata kelola komoditas pertanian dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Lampung bahkan melampaui rata-rata nasional.

Meski demikian, ia menilai peningkatan produksi pertanian harus dibarengi pembangunan industri pengolahan agar komoditas yang dihasilkan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

“Dengan produksi ubi kayu yang mencapai sekitar 7,5 juta ton per tahun, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok utama bahan baku bioetanol nasional. Kehadiran industri bioetanol akan menciptakan pasar baru bagi petani, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan nilai tambah hasil pertanian Lampung,” ujarnya.

Dari sisi industri, CEO PNRE John Anis menjelaskan pengembangan bioetanol di Lampung dilakukan melalui kolaborasi dengan Toyota Tsusho Corporation dan Green Earth Institute (GEI) Jepang. Lampung dinilai memiliki posisi strategis karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, terutama singkong yang menjadi komoditas unggulan daerah.

Menurut John, pengembangan bioetanol tidak hanya memanfaatkan molases dan singkong sebagai bahan baku bioetanol generasi pertama, tetapi juga biomassa sorgum dan limbah perkebunan sawit sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua.

“Salah satu fokus kami adalah mengembangkan teknologi yang mampu mengubah limbah pertanian menjadi energi bernilai tinggi sekaligus menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” katanya.

PNRE saat ini tengah mempersiapkan pembangunan pilot plant bioetanol generasi kedua yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Perusahaan juga mengkaji reaktivasi fasilitas bioetanol eksisting dengan kapasitas produksi sekitar 60 ribu kiloliter per tahun.

Kawasan di Kecamatan Tegineneng diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan fasilitas pengolahan bioetanol, sedangkan Kecamatan Rejosari akan dikembangkan sebagai pusat budidaya sorgum untuk mendukung pasokan bahan baku bioetanol generasi kedua.

Sebagai bagian dari penguatan rantai pasok, PNRE akan bekerja sama dengan Universitas Lampung untuk melaksanakan uji tanam sorgum seluas 10 hektare sebagai tahap awal pengembangan budidaya di daerah tersebut.

Melalui sinergi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional, proyek bioetanol ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Lampung sebagai pusat hilirisasi pertanian dan energi terbarukan nasional, sekaligus menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen percepatan proyek, kegiatan ditutup dengan penandatanganan Joint Declaration antara Pemerintah Provinsi Lampung, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan Toyota Tsusho Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....