TBC Bukan Penyakit Keturunan, Kenali Cara Penularannya
- 12 Agt 2026 22:01 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru, namun dapat menyerang organ tubuh lainnya.
- TBC menular melalui percikan atau droplet dari penderita TBC aktif, terutama saat batuk atau berbicara dalam jarak dekat, bukan melalui penggunaan alat makan atau handuk bersama.
- Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mengingatkan masyarakat untuk memahami cara penularan TBC secara tepat guna mencegah penyebaran penyakit.
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, meski juga dapat menyerang organ tubuh lainnya. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dr. Yenni Hasrita, M.Kes., mengingatkan masyarakat untuk memahami cara penularan TBC secara tepat.
Yenni menjelaskan TBC menular melalui percikan atau droplet dari penderita TBC aktif, terutama ketika batuk atau berbicara dalam jarak dekat. Penularan tidak terjadi hanya karena seseorang menggunakan alat makan atau handuk yang sama dengan pasien.
“Penularannya langsung melalui droplet, melalui percikan air liur dari penderita yang aktif,” ujar Yenni dalam dialog Santai Siang Pro 2 RRI Bandarlampung, Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut Yenni, batuk menjadi gejala utama yang perlu dicermati masyarakat. Batuk yang berlangsung selama dua minggu atau lebih perlu dicurigai sebagai gejala TBC dan diperiksa lebih lanjut. Namun, pemeriksaan dahak juga dapat dilakukan lebih awal pada pasien yang mengalami batuk.
“Sekarang begitu ada pasien batuk, bahkan mungkin seminggu pun kita sudah minta untuk dilakukan pemeriksaan daripada sputumnya,” kata Yenni. Selain batuk berkepanjangan, TBC dapat disertai demam dan pada sebagian penderita muncul batuk berdarah.
Yenni juga meluruskan anggapan TBC merupakan penyakit keturunan. Menurutnya, seseorang tidak mewariskan TBC kepada anak secara genetik. Risiko penularan dalam keluarga lebih berkaitan dengan kontak erat dan aktivitas bersama dengan penderita TBC aktif.
Ia menjelaskan terdapat kondisi TBC laten, ketika bakteri berada dalam tubuh tetapi belum menimbulkan gejala karena sistem imun masih mampu menahannya. Kondisi tersebut dapat berubah ketika daya tahan tubuh menurun.
“Pada saat dia drop, suatu saat ketika dia punya imun atau di stres, imunnya drop, bisa-bisa si kuman itu nanti aktif kembali,” ujar Yenni.
Kelompok bayi dan lansia juga perlu mendapat perhatian karena lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi. Yenni menyebut bayi dapat terpapar TBC dari luar lingkungan rumah melalui kontak dekat dengan orang yang tidak diketahui sedang mengalami TBC aktif. Karena itu, orang tua perlu membatasi kontak dekat bayi dengan orang yang sedang sakit serta menerapkan langkah pencegahan penularan.
Yenni menekankan pentingnya investigasi kontak ketika terdapat anggota keluarga yang terdiagnosis TBC. Orang-orang yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan pasien perlu menjalani pemeriksaan untuk menemukan kemungkinan kasus lebih awal. Deteksi dan pengobatan sejak dini menjadi bagian penting untuk memutus rantai penularan TBC di masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....