Otak di Era Konten 15 Detik, Apa yang Sedang Terjadi?

  • 18 Jun 2026 19:11 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung Video pendek di media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts, jutaan pengguna menghabiskan waktu dengan menggulir berbagai konten yang hanya berdurasi beberapa detik hingga beberapa menit. Kemudahan mengakses hiburan dan informasi ini membuat banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu lebih lama di depan layar.

Para ahli menilai popularitas konten pendek tidak lepas dari cara otak manusia merespons hal-hal baru. Setiap kali pengguna menemukan video yang menarik, otak melepaskan dopamin, zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Ketika proses ini terjadi berulang kali dalam waktu singkat, muncul dorongan untuk terus menggulir dan mencari konten berikutnya.

Kebiasaan tersebut dapat membuat otak terbiasa menerima informasi secara cepat. Akibatnya, sebagian orang mulai merasa sulit mempertahankan fokus pada aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama, seperti membaca buku, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan yang kompleks. Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai salah satu tantangan yang muncul di era digital.

Selain memengaruhi konsentrasi, kebiasaan scrolling berlebihan juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Banyak pengguna yang terus mengakses media sosial saat sedang beristirahat atau menjelang tidur. Padahal, paparan konten yang terus-menerus dapat membuat otak sulit benar-benar rileks dan berpotensi mengganggu kualitas tidur.

Meski demikian, para pakar menegaskan bahwa video pendek tidak selalu berdampak negatif. Platform digital juga menjadi sarana edukasi, hiburan, hingga pengembangan keterampilan. Yang menjadi perhatian adalah durasi penggunaan dan kemampuan pengguna dalam mengontrol kebiasaan mereka saat menggunakan media sosial.

Karena itu, masyarakat disarankan untuk lebih bijak dalam mengatur waktu layar, termasuk memberikan jeda dari gawai dan meluangkan waktu untuk aktivitas yang melatih fokus. Di tengah derasnya arus konten digital, menjaga keseimbangan antara dunia daring dan kehidupan nyata menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan otak dan kualitas hidup.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....