Kenapa Orang Bisa Beda Tafsir tentang Satu Berita?
- 31 Agt 2026 11:50 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Teori Penerimaan Aktif (Audience Reception Theory) yang diciptakan Stuart Hall pada 1973 menjelaskan mengapa penonton memiliki reaksi berbeda terhadap konten media yang sama.
- Teori ini menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian media hingga saat ini, khususnya relevan di era digital ketika setiap orang dibanjiri konten dari televisi, media sosial, dan platform streaming.
- Fenomena perbedaan reaksi penonton bukan kebetulan melainkan hasil dari proses penerimaan aktif yang dapat dijelaskan secara ilmiah melalui pendekatan teori komunikasi.
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pernahkah Anda menonton iklan, membaca berita, atau menyaksikan drama televisi, lalu mendapati reaksi Anda ternyata berbeda jauh dari teman atau keluarga yang menyaksikan tayangan sama? Fenomena ini bukan kebetulan. Ada teori komunikasi yang menjelaskannya secara ilmiah, yaitu Teori Penerimaan Aktif atau Audience Reception Theory, yang dicetuskan oleh pemikir asal Inggris, Stuart Hall, pada tahun 1973.
Teori ini menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian media hingga sekarang, terutama di era digital saat setiap orang setiap hari dibanjiri konten dari televisi, media sosial, hingga platform streaming.
Pesan Media Tidak Selalu Diterima Sama oleh Semua Orang
Menurut Hall, setiap media—baik itu berita, iklan, film, maupun konten media sosial—selalu membawa pesan yang sengaja dirancang oleh pembuatnya. Namun yang menarik, pesan tersebut tidak serta-merta diterima mentah-mentah oleh penontonnya. Setiap individu memiliki latar belakang, nilai, dan pengalaman berbeda, sehingga cara mereka menafsirkan pesan pun bisa jadi tidak seragam.
Hall merumuskan tiga kemungkinan cara khalayak menafsirkan sebuah pesan media:
1. Preferred Reading (Pembacaan yang Disepakati) Ini terjadi ketika penonton menerima dan memahami pesan persis seperti yang dimaksudkan oleh pembuat konten. Contohnya, saat menonton iklan sabun cuci yang menampilkan pakaian menjadi lebih putih dan bersih, penonton langsung percaya bahwa produk tersebut memang efektif, sesuai pesan yang ingin disampaikan pengiklan.
2. Negotiated Reading (Pembacaan yang Dinegosiasikan) Pada tahap ini, penonton memahami pesan utama, tetapi menyesuaikannya dengan nilai atau pengalaman pribadi. Misalnya, seseorang menonton berita tentang manfaat diet tertentu, ia setuju sebagian, namun tetap menyesuaikan dengan kondisi kesehatannya sendiri sebelum benar-benar mempraktikkannya.
3. Oppositional Reading (Pembacaan yang Berlawanan) Ini terjadi saat penonton justru menolak makna yang ditawarkan media. Contoh nyata dapat dilihat ketika sebagian masyarakat skeptis terhadap klaim sebuah iklan produk kecantikan yang menjanjikan hasil instan, karena mereka merasa pesan itu berlebihan atau tidak realistis.
Penonton Aktif vs Penonton Pasif
Selain tiga pola tafsir di atas, Hall juga membedakan dua tipe khalayak media: aktif dan pasif.
Penonton aktif adalah mereka yang tidak sekadar menonton, tetapi juga mempertanyakan apa yang tersembunyi di balik sebuah tayangan. Misalnya, saat melihat unggahan influencer yang merekomendasikan produk tertentu, penonton aktif akan bertanya, "Apakah ini rekomendasi tulus atau sekadar konten berbayar?"
Sebaliknya, penonton pasif cenderung menyerap informasi begitu saja tanpa banyak berpikir kritis, sehingga lebih mudah terpengaruh oleh pesan yang disampaikan media, termasuk potensi hoaks atau informasi yang menyesatkan.
Hall menegaskan bahwa pada dasarnya, khalayak lebih condong bersikap aktif ketimbang pasif. Sebab, untuk sampai pada salah satu dari tiga jenis pemaknaan tadi—entah menyepakati, menegosiasikan, atau menolak pesan—seseorang tetap harus melalui proses berpikir, meskipun berlangsung cepat dan tanpa disadari.
Relevansi di Era Media Sosial
Di tengah maraknya arus informasi digital saat ini, Teori Penerimaan Aktif menjadi semakin relevan. Setiap kali warganet membaca unggahan berita, menonton video pendek, atau menyimak podcast, secara tidak langsung mereka tengah menjalani proses penafsiran seperti yang dijelaskan Hall.
Kemampuan bersikap sebagai penonton aktif menjadi bekal penting di tengah derasnya arus informasi, khususnya untuk menyaring mana pesan yang layak dipercaya, mana yang perlu dipertimbangkan ulang, dan mana yang patut dikritisi. Literasi media yang baik, pada akhirnya, berakar dari kesadaran bahwa setiap pesan media punya sudut pandang, dan setiap penonton berhak—bahkan perlu—memiliki sikap kritis terhadapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....