Media Sebagai Pembentuk Realitas
- 31 Agt 2026 12:30 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Teori agenda setting adalah teori komunikasi massa yang menjelaskan bagaimana media memengaruhi isu mana yang dianggap penting oleh masyarakat.
- Teori ini dikembangkan oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw melalui riset empat tahun (1968-1972) yang mengamati pengaruh media pada pemilih dalam kampanye presiden AS 1968.
- Penelitian mereka yang berjudul 'The Agenda Setting Function of the Mass Media' masih menjadi rujukan utama dalam kajian ilmu komunikasi hingga saat ini.
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa satu isu bisa jadi perbincangan hangat di mana-mana dalam semalam, sementara isu lain yang sebenarnya tak kalah penting justru senyap tanpa jejak? Jawabannya ada pada salah satu teori komunikasi massa paling berpengaruh sepanjang sejarah: teori agenda setting.
Teori ini lahir dari riset panjang dua akademisi asal Amerika Serikat, Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw, yang menghabiskan waktu empat tahun, dari 1968 hingga 1972, untuk mengamati bagaimana media memengaruhi sikap pemilih selama kampanye pemilihan presiden AS tahun 1968. Hasil temuan mereka kemudian dipublikasikan dengan judul "The Agenda Setting Function of the Mass Media", yang hingga kini masih menjadi rujukan utama dalam kajian ilmu komunikasi.
Media Tak Sekadar Menyampaikan, Tapi Menyeleksi
Inti dari teori agenda setting terletak pada dua asumsi dasar. Pertama, media massa tidak hanya berfungsi sebagai cermin yang memantulkan realitas apa adanya, melainkan turut aktif membentuk dan mengonstruksi realitas tersebut di benak khalayak. Kedua, ketika media menyajikan berbagai isu dan memberi penekanan lebih pada isu-isu tertentu, publik pun terdorong untuk menilai isu mana yang dianggap lebih penting dibandingkan isu lainnya.
Dengan kata lain, media memiliki kekuatan besar bukan dalam menentukan apa yang harus dipikirkan khalayak, melainkan apa yang layak dipikirkan. Semakin sering sebuah isu muncul dan mendapat sorotan, semakin besar pula anggapan publik bahwa isu tersebut penting dan mendesak untuk diperhatikan.
Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari
Fenomena ini sebetulnya bisa dengan mudah kita temui dalam keseharian. Ambil contoh, ketika sebuah stasiun televisi atau portal berita terus-menerus menayangkan pemberitaan tentang kelangkaan bahan pokok menjelang hari raya, masyarakat pun ramai-ramai memborong sembako meski stok sebenarnya masih aman. Persepsi tentang "krisis" itu terbentuk bukan semata dari fakta di lapangan, melainkan dari intensitas pemberitaan media.
Contoh lain terlihat jelas di media sosial. Ketika sebuah tagar atau isu terus dipromosikan lewat algoritma platform digital, publik cenderung menganggap isu tersebut sebagai yang paling relevan saat itu, meski di saat bersamaan ada persoalan lain yang tak kalah krusial namun luput dari sorotan. Begitu pula saat musim kampanye politik, isu yang paling sering diangkat media biasanya menjadi isu yang paling banyak diperbincangkan pemilih, terlepas dari seberapa besar dampak isu tersebut terhadap kehidupan mereka secara langsung.
Khalayak Perlu Kritis, Media Tak Pernah Netral
Yang perlu digarisbawahi, khalayak yang hanya bergantung pada satu sumber informasi dan tidak mampu melihat persoalan secara utuh berisiko turut "mengiyakan" agenda yang sudah dibentuk media. Padahal, media sebagai perantara informasi sejatinya tidak pernah benar-benar netral. Setiap pesan yang disampaikan telah melalui proses seleksi, penyusunan, dan pengemasan berdasarkan sudut pandang serta kepentingan pihak-pihak yang bekerja di baliknya.
Karena itu, memahami teori agenda setting menjadi penting bagi masyarakat modern yang setiap hari dibanjiri informasi dari berbagai kanal. Dengan bersikap kritis dan tidak hanya mengandalkan satu sumber berita, publik bisa lebih bijak menilai mana isu yang benar-benar substansial dan mana yang sekadar "diramaikan" oleh pemberitaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....