Kebanyakan Akses Informasi, Dunia Terasa Lebih Mengerikan
- 31 Agt 2026 12:31 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Teori kultivasi menjelaskan bahwa televisi tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menanamkan cara pandang tertentu tentang realitas sosial kepada pemirsanya.
- Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh George Gerbner melalui studi Cultural Indicators sekitar tahun 1960.
- Persepsi bahwa dunia di luar rumah sangat berbahaya padahal lingkungan sekitar sebenarnya aman dapat disebabkan oleh pengaruh tayangan televisi sehari-hari.
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pernahkah merasa dunia di luar rumah begitu berbahaya, padahal lingkungan sekitar sebenarnya aman-aman saja? Bisa jadi, persepsi itu bukan datang dari pengalaman nyata, melainkan dari layar kaca yang setiap hari menemani waktu luang. Fenomena inilah yang dijelaskan secara ilmiah lewat teori kultivasi.
Televisi Membentuk Cara Pandang Penonton
Teori kultivasi pertama kali diperkenalkan oleh George Gerbner melalui studi Cultural Indicators pada sekitar tahun 1960. Inti dari teori ini adalah televisi tidak sekadar menyajikan hiburan, tetapi juga "menanamkan" cara pandang tertentu tentang realitas sosial kepada pemirsanya.
Gerbner menemukan bahwa penonton yang menghabiskan waktu sangat banyak di depan televisi cenderung meyakini bahwa dunia nyata sama persis dengan apa yang mereka tonton. Jika tayangan didominasi berita kriminal, adegan kekerasan, atau konten yang menegangkan, penonton berat perlahan akan meyakini bahwa lingkungan sekitarnya penuh bahaya, meski kenyataannya tidak demikian.
Dua Tipe Penonton: Berat dan Ringan
Menurut teori ini, penonton terbagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, heavy viewers atau penonton kelas berat, yaitu mereka yang menonton televisi lebih dari empat jam setiap hari. Kedua, light viewers atau penonton kelas ringan, yang hanya menghabiskan waktu menonton sekitar dua jam atau kurang per hari.
Semakin lama seseorang terpapar tayangan televisi, semakin besar pula kemungkinan pandangannya terhadap dunia dibentuk oleh apa yang ia tonton, bukan oleh pengalaman langsung di kehidupan nyata.
Lima Asumsi Dasar Teori Kultivasi
Dalam berbagai penelitian, teori kultivasi bertumpu pada lima asumsi utama:
- Televisi dinilai memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan jenis media lain.
- Televisi memang tidak secara langsung memicu tindak kekerasan, namun berperan besar dalam membentuk sikap dan keyakinan penontonnya.
- Televisi berfungsi menanamkan kembali nilai dan norma yang sebenarnya sudah ada dalam budaya masyarakat.
- Kebiasaan menonton berat, yakni sekitar empat jam sehari, dapat memicu apa yang disebut mean world syndromeatau sindrom dunia yang kejam, di mana seseorang merasa dunia jauh lebih berbahaya dari kenyataannya.
- Televisi tidak sekadar mencerminkan realitas, tetapi justru menciptakan realitas alternatifnya sendiri yang ikut membentuk cara pandang penonton terhadap dunia.
Relevansi di Era Media Digital
Meski lahir dari studi tentang televisi konvensional, teori kultivasi tetap relevan hingga kini, bahkan semakin terasa dampaknya di era gawai dan media sosial. Konsumsi konten yang berlangsung berjam-jam setiap hari, baik lewat televisi, YouTube, maupun aplikasi berita, berpotensi membentuk persepsi masyarakat terhadap isu-isu tertentu.
Contohnya, seseorang yang terus-menerus terpapar berita kriminalitas di media sosial bisa jadi merasa tingkat kejahatan di sekitarnya jauh lebih tinggi daripada kenyataan yang tercatat oleh data resmi. Begitu pula tayangan sinetron atau reality show yang menampilkan gaya hidup mewah secara berlebihan, dapat menggeser standar hidup normal di benak penonton setianya.
Oleh karena itu, kesadaran dalam memilih tontonan dan membatasi durasi konsumsi media menjadi penting. Bukan untuk menghindari informasi, melainkan agar persepsi terhadap dunia tetap berpijak pada realitas, bukan sekadar bayangan yang dibentuk oleh layar kaca.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....