Teater Satu Lampung Hidupkan Karya Sufi Persia dalam Musyawarah Burung

  • 15 Sep 2026 20:00 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID,BANDAR LAMPUNG — Karya sastra klasik sufi Persia Mantiq al-Tayr karya Fariduddin Attar kembali menemukan ruang dialog dengan kehidupan masa kini melalui pementasan Musyawarah Burung oleh Teater Satu Lampung.

Pertunjukan yang disutradarai sekaligus ditulis oleh Iswadi Pratama tersebut dijadwalkan berlangsung di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung pada 14–15 September 2026, mulai pukul 15.00 WIB.

Musyawarah Burung berangkat dari kisah klasik tentang sekumpulan burung yang melakukan perjalanan untuk mencari Simurgh, Raja Burung yang dipercaya dapat membawa mereka menuju kebenaran. Dalam perjalanan tersebut, mereka harus melewati tujuh lembah sekaligus menghadapi berbagai rintangan dan kelemahan dalam diri.

Iswadi Pratama tidak menghadirkan karya Attar sekadar sebagai cerita masa lalu. Kisah tersebut ditafsirkan kembali dengan pendekatan yang kontekstual sehingga persoalan yang dialami para burung berkelindan dengan kehidupan manusia modern.

Tokoh-tokoh burung dalam pertunjukan menjadi representasi berbagai persoalan manusia, seperti kekuasaan, pencitraan, cinta, pengetahuan, trauma, skeptisisme, aktivisme hingga rasa kehilangan nilai diri.

Dengan pendekatan tersebut, perjalanan menuju Simurgh mengalami perubahan makna. Simurgh tidak hanya dipahami sebagai sosok mitologis yang dicari, tetapi menjadi simbol perjalanan manusia untuk menemukan kesadaran dan hakikat dirinya.

Kekuatan pertunjukan juga dibangun melalui perpaduan bahasa tubuh, dialog, musik, cahaya dan pengolahan ruang. Lanskap gurun, gunung, lembah dan badai tidak hanya menjadi latar, tetapi dihadirkan sebagai simbol perjalanan batin para tokoh.

Salah satu bagian yang menjadi titik penting adalah “Pengadilan Batin”. Adegan ini membawa para tokoh berhadapan langsung dengan ego, ketakutan, motif dan berbagai kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan.

Melalui pendekatan tersebut, Teater Satu Lampung menunjukkan bahwa karya sastra klasik masih dapat dibaca dan ditafsirkan melalui persoalan manusia masa kini. Khazanah tasawuf yang menjadi sumber karya Attar tidak diperlakukan sebagai artefak sejarah, melainkan sebagai bahan perenungan terhadap krisis kemanusiaan kontemporer.

Musyawarah Burung pun tidak diarahkan untuk memberikan kesimpulan tunggal kepada penonton. Sebaliknya, teater menjadi ruang untuk melakukan refleksi dan “musyawarah” dengan diri sendiri.

Pementasan ini pada akhirnya mempertemukan sastra klasik Islam, seni pertunjukan dan persoalan manusia modern dalam satu pengalaman artistik. Kisah perjalanan burung menuju Simurgh berubah menjadi gambaran perjalanan manusia untuk melepaskan identitas semu dan menemukan jalan pulang kepada dirinya, kesadarannya dan Tuhan.

Melalui panggung teater, Teater Satu Lampung kembali menunjukkan bahwa karya klasik dapat terus hidup ketika dibaca ulang dan dipertemukan dengan kegelisahan manusia pada zamannya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....