Festival internasional ke-10 DianArza Arts Laboratory Segera Digelar
- 16 Sep 2026 18:28 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID,Bandar Lampung-Festival internasional ke-10 DianArza Arts Laboratory menghadirkan pertunjukan interdisipliner, pameran “RITUS”, dan empat lokakarya eksperimental.
Ketika benda rupa tidak lagi sekadar dipandang, melainkan bergerak, berbunyi, dan berinteraksi dengan tubuh serta ruang, di situlah batas antara seni rupa dan seni pertunjukan mulai berjarak.
Eksperimentasi tersebut menjadi gagasan utama LAPAH #X – International Performing Arts Festival 2026 yang digelar DianArza Arts Laboratory (DAAL) pada 27–29 November 2026 di Provinsi Lampung.
Memasuki penyelenggaraan ke-10, LAPAH #X mengusung tema “Seni Rupa Pertunjukan”. Festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan di atas panggung, tetapi dirancang sebagai ruang perjumpaan berbagai disiplin seni—rupa, tubuh, ruang, bunyi, arsitektur, hingga aksi performatif.
Enam penampil tamu akan hadir dalam rangkaian pertunjukan interdisipliner. Program tersebut menjadi bagian dari upaya DAAL membuka kemungkinan baru dalam penciptaan karya sekaligus memperluas cara pandang terhadap praktik seni pertunjukan.
Eksplorasi lintas disiplin juga hadir melalui pameran seni rupa “RITUS”. Pameran ini menampilkan 15 karya dua dimensi, lima karya tiga dimensi, serta 10 karya undangan yang melibatkan tokoh dan maestro seni rupa Lampung.
“RITUS” tidak ditempatkan sekadar sebagai ruang untuk memajang karya. Pameran tersebut menjadi bagian dari gagasan besar LAPAH #X yang melihat seni rupa sebagai sesuatu yang dapat bergerak melampaui batas objek—memasuki tubuh, ruang, waktu, dan pengalaman performatif.
Eksperimentasi itu kemudian diperdalam melalui empat lokakarya, yakni Objek Rupa Menuju Aksi Performatif; Konstruksi Skenografi Performatif; Notasi Visual: Menerjemahkan Bentuk Rupa Menjadi Komposisi Bunyi; serta Koreografi Ruang & Tubuh Arsitektural sebagai Instalasi Hidup.
Keempat program tersebut mempertemukan pendekatan yang selama ini kerap berjalan di jalurnya masing-masing. Benda dapat ditransformasikan menjadi gerak, bentuk rupa diterjemahkan ke dalam bunyi, ruang arsitektur diperlakukan sebagai tubuh, sementara tubuh manusia dapat menjadi bagian dari instalasi.
Karena itu, LAPAH #X diposisikan bukan semata sebagai festival pertunjukan, melainkan laboratorium terbuka untuk menguji hubungan antardisiplin seni.
DAAL menyelenggarakan LAPAH #X secara independen, gratis, dan mengedepankan konsep edutainment. Perupa serta seniman interdisipliner diberi ruang untuk mengikuti proses kurasi dan terlibat dalam ekosistem festival.
Direktur Program dan Artistik DAAL, Putra Agung, menyebut penyelenggaraan LAPAH #X sebagai bagian dari konsistensi DAAL dalam mengembangkan praktik seni pertunjukan dan eksperimentasi lintas disiplin di Lampung. Sementara itu, Founder DAAL, Dian Anggraini, menjadi bagian penting dalam keberlanjutan laboratorium seni tersebut.
Tema “Seni Rupa Pertunjukan” sekaligus mengajukan pertanyaan tentang masa depan batas-batas seni: apa yang terjadi ketika karya rupa tidak lagi diam di atas kanvas atau berdiri sebagai objek, tetapi diberi tubuh, suara, ruang, dan waktu?
Jawabannya akan diuji selama tiga hari melalui pertunjukan, pameran, lokakarya, serta berbagai proses kreatif yang mempertemukan seniman dan publik.
Perupa dan seniman interdisipliner yang berminat mengikuti program dapat membaca Term of Reference (TOR) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang disediakan panitia. Pendaftaran kurasi dilakukan melalui tautan resmi DAAL.
Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui WhatsApp 085368199399 atau 082177192358. LAPAH #X pada akhirnya bukan sekadar perayaan satu dekade. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan benda dan tubuh, bunyi dan bentuk, arsitektur dan gerak—seraya menguji kembali pertanyaan tentang di mana sesungguhnya sebuah karya seni berakhir dan pengalaman dimulai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....