Inflasi AS Melonjak Tertinggi Akibat Ketegangan dengan Iran
- 31 Mei 2026 23:40 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Inflasi Amerika Serikat kembali mencatat rekor baru yang mengkhawatirkan. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) — ukuran inflasi yang paling diperhatikan oleh The Federal Reserve — naik 3,8 persen secara tahunan pada April, meningkat dari 3,5 persen pada Maret. Secara bulanan, PCE tumbuh 0,4 persen.
Data tersebut dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, Departemen Perdagangan AS, pada Kamis (29/5).
Lonjakan harga energi menjadi biang kerok utama. Harga bensin melonjak 5,5 persen dalam sebulan seiring memanasnya konflik AS-Israel dengan Iran yang menekan pasar energi global. Harga rata-rata bensin kini mencapai 4,42 dolar AS per galon, naik dari 4,17 dolar pada bulan sebelumnya, dan jauh di atas harga 2,98 dolar per galon pada 28 Februari lalu — sebelum serangan militer AS dan Israel ke Iran.
Selain energi, harga pangan juga naik 0,5 persen, kenaikan bulanan terbesar sejak November 2022. Biaya perumahan dan utilitas turut meningkat 0,6 persen. Di sisi lain, pengeluaran konsumen naik 0,5 persen, sementara tingkat tabungan masyarakat justru anjlok 2,6 persen — sinyal bahwa warga mulai menguras simpanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tekanan Besar bagi The Fed
Lonjakan inflasi ini datang di saat yang krusial, tepat menjelang rapat kebijakan perdana The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh, yang dijadwalkan pada 16-17 Juni mendatang.
Kepala Ekonomi AS di Fitch Ratings, Olu Sonola, menilai situasi ini semakin membuat The Fed tidak nyaman. Menurutnya, tekanan harga kemungkinan akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, dan meski bank sentral tidak bisa mengatasi guncangan sisi pasokan, mereka juga tidak bisa mengabaikannya ketika sudah merambat ke inflasi inti.
Analis pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen hingga setidaknya pertengahan 2027. Analisis terbaru JPMorgan Chase bahkan mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga — bukan penurunan — pada pertengahan 2027. Hal itu sejalan dengan notulen rapat The Fed pada 28–29 April yang menunjukkan para pembuat kebijakan condong ke arah pengetatan.
Meski demikian, pasar saham AS justru bergerak menguat. Indeks Nasdaq naik 0,6 persen, S&P 500 menguat 0,5 persen, sementara Dow Jones Industrial Average hampir stagnan dengan kenaikan tipis 0,05 persen pada perdagangan sesi siang.
Hingga berita ini diterbitkan, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan inflasi tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....