Kemajuan AI Dorong Tiga Raksasa Chip Tembus $1 Triliun

  • 31 Mei 2026 19:26 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Raksasa semikonduktor Korea Selatan, SK Hynix, resmi menembus kapitalisasi pasar senilai $1 triliun pekan ini, menyusul dua pesaing terdekatnya: Samsung Electronics dan Micron, produsen chip asal Amerika Serikat yang juga mencapai tonggak serupa dalam bulan yang sama. Ketiganya bersama-sama menguasai hampir seluruh produksi chip memori di dunia.

Beberapa tahun lalu, chip memori masih dipandang sebagai segmen usang yang kurang menarik perhatian investor. Sorotan lebih banyak tertuju pada chip pemrosesan canggih seperti yang dirancang Nvidia dan diproduksi TSMC — dua perusahaan yang kini juga bernilai di atas $1 triliun.

Namun, gelombang pengembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah segalanya. Kebutuhan akan penyimpanan data melonjak drastis, memicu kelangkaan global chip memori dan mendongkrak harga saham perusahaan-perusahaan pembuatnya ke level tertinggi sepanjang sejarah.

Bonus Selangit, Ketimpangan Melebar

Samsung dan SK Hynix, dua perusahaan terbesar Korea Selatan, sama-sama mencetak rekor laba pada kuartal pertama tahun ini. Namun, kesenjangan besaran bonus antara keduanya memicu gelombang protes. Karyawan Samsung mengancam akan mogok kerja selama 18 hari sebelum akhirnya tercapai kesepakatan baru dengan serikat pekerja. Karyawan SK Hynix berpotensi menerima bonus hingga sekitar Rp14,7 miliar per orang tahun ini, sementara karyawan Samsung mendapat hingga sekitar Rp6,5 miliar.

Ketimpangan ini mencerminkan jurang yang kian melebar antara sektor AI dan bagian lain perekonomian di Asia, memicu keresahan soal siapa yang sesungguhnya menikmati manfaat dari ledakan AI.

Di Amerika Serikat, fenomena serupa terjadi. Nvidia, perusahaan paling bernilai di dunia dengan valuasi $5 triliun, terus mencetak rekor. Sementara Anthropic mengumumkan putaran pendanaan terbaru senilai $65 miliar dengan valuasi mendekati $1 triliun.

Potensi Gelembung yang Mengintai

Di balik euforia tersebut, sejumlah analis mulai memperingatkan risiko gelembung aset. Analis RBC mencatat indeks acuan Korea Selatan — yang telah menjadi indeks saham terbesar ketujuh di dunia — kini dijuluki sebagai "wajah dari reli teknologi AI di Asia." Namun, Samsung dan SK Hynix menyumbang sekitar separuh dari indeks tersebut, membuat pasar rentan terhadap gejolak.

"Konsentrasi yang sedemikian tinggi... membuat pasar saham Korea Selatan secara keseluruhan terekspos pada fluktuasi tajam akibat perkembangan yang hanya melibatkan segelintir perusahaan, yang berpotensi memicu volatilitas pasar dan risiko penurunan," tulis RBC dalam catatan risetnya.

Kekhawatiran ini semakin relevan mengingat ekonomi global sangat bergantung pada janji AI untuk merevolusi dunia kerja — sebuah janji yang hingga kini masih harus dibuktikan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....