Akhir Perang Iran, Awal Ketimpangan AS?

  • 31 Mei 2026 21:02 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Konflik Iran yang berakhir justru memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin di Amerika Serikat. Sejak perang usai, indeks saham S&P 500 sempat turun 8% lalu melonjak 19% dan kini tercatat naik 10,7% dalam setahun. Presiden Donald Trump pun dengan cepat menyebut keberhasilan ini sebagai rekor tertinggi dana pensiun 401(k) dan pasar saham sepanjang masa.

Namun di balik lonjakan saham, beban ekonomi riil yang ditanggung rakyat justru semakin berat. Data Biro Analisis Ekonomi AS menunjukkan daya beli masyarakat merosot tajam. Pendapatan disposabel riil turun 0,2% pada Maret dan 0,5% pada April. Tingkat tabungan pribadi anjlok hingga menyentuh angka 2,6%—sangat rendah.

Ketimpangan kian terlihat jelas. Sementara laba perusahaan besar di indeks S&P 500 tetap moncer, pangsa tenaga kerja terhadap pendapatan domestik bruto AS merosot ke level terendah dalam 79 tahun, yakni hanya 51%. Penelitian Federal Reserve New York mengungkapkan, sejak perang, warga di Timur Laut dengan pendapatan di bawah US40.000pertahunmemangkaspembelianbensinhinggahampir1040.000pertahunmemangkaspembelianbensinhinggahampir10125.000 tetap nyaman berkendara.

Secara nasional, rata-rata warga AS telah mengeluarkan biaya energi tambahan sebesar US447sejakperangdimulai.Meskihargabensinmulaiturun16senpergalonmenjadiUS447sejakperangdimulai.Meskihargabensinmulaiturun16senpergalonmenjadiUS4,39 pasca liburan Memorial Day, ketegangan masih membayangi.

Kesepakatan rapuh antara AS dan Iran mulai membuka aliran minyak dari Selat Hormuz. Namun, sekitar 2.000 kapal masih terperangkap di Teluk Persia. CEO Chevron, Mike Wirth, memperingatkan butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk membersihkan ranjau dan mengatur ulang jalur distribusi.

Jika kesepakatan batal, harga minyak dipastikan melonjak lagi. Saat ini, 60% warga AS tidak setuju dengan kinerja Presiden Trump. Ketimpangan yang semakin dalam ini tidak hanya mengancam posisi Partai Republik pada pemilu paruh waktu November, tetapi juga berpotensi memecah belah Partai Demokrat sendiri antara kubu progresif anti-korporasi dan penganut pasar bebas ala Clinton-Obama.

Yang paling mengkhawatirkan, alienasi antara mereka yang menikmati keuntungan dari gelembung saham berbasis kecerdasan buatan dan mereka yang tersingkir dari kemakmuran justru lebih nyata dampaknya bagi warga AS dibandingkan perang yang terjadi ribuan kilometer dari rumah mereka. Ironisnya, keterasingan inilah yang membuat Trump begitu mudah memulai perang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....