Trump Percepat Riset Obat Psikedelik untuk Kesehatan Mental
- 31 Mei 2026 21:04 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pada 18 April 2026 untuk mempercepat penelitian obat-obatan psikedelik sebagai terapi kesehatan mental, khususnya bagi para veteran perang.
Langkah ini menandai perubahan sikap signifikan dari pemerintahan Trump, yang pada periode pertamanya mengambil sikap lebih keras terhadap ganja dan zat-zat terlarang lainnya. Dalam perintah terbaru, Gedung Putih menyatakan senyawa psikedelik "menunjukkan potensi dalam studi klinis untuk mengatasi penyakit mental serius pada pasien yang kondisinya tidak membaik setelah menjalani terapi standar."
Bersamaan dengan itu, pemerintah memberikan priority review voucher kepada tiga perusahaan pengembang terapi psikedelik — Compass Pathways, Usona Institute, dan Transcend Therapeutics — guna mempercepat proses peninjauan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).
Kesaksian Veteran
Marie Phelan, veteran Angkatan Darat AS yang bertugas di Irak pada 2003, mengaku tidak pernah mendengar tentang MDMA sebelum menemukan flyer yang mencari relawan penderita PTSD. Setelah menjalani terapi berbantuan MDMA, hidupnya berubah drastis.
"Pengalaman saya dengan MDMA seperti membuka lebar-lebar pintu hati saya yang selama ini tertutup," ujar Phelan. Ia menggambarkan proses terapi itu bukan sebagai efek mabuk, melainkan seperti menghadapi trauma bertahun-tahun dalam lingkungan yang terkendali dan aman.
Juliana Mercer, Direktur Eksekutif nirlaba Healing Breakthrough sekaligus veteran Korps Marinir AS, juga menyebut terapi psikedelik "sepenuhnya mengubah" hidupnya setelah berjuang dengan trauma. "Pengalaman ini memberiku izin untuk sembuh," kata Mercer.
Gambaran Ilmiah
Penelitian klinis terhadap sejumlah senyawa psikedelik menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dalam uji coba fase akhir, sekitar 71 persen peserta dengan PTSD berat tidak lagi memenuhi kriteria diagnosis gangguan tersebut setelah menjalani terapi berbantuan MDMA.
Namun, FDA sebelumnya telah menolak aplikasi terapi MDMA pada 2024 dengan alasan kelemahan desain studi dan kebutuhan data tambahan. Para peneliti mengingatkan bahwa tidak semua senyawa psikedelik memiliki profil keamanan yang sama.
Brandon Weiss, peneliti dari Center for Psychedelic and Consciousness Research di Johns Hopkins University, menekankan perlunya kehati-hatian. "Kekhawatiran terbesar saya adalah standar FDA dilonggarkan karena alasan politis," ujarnya. Ia secara khusus menyoroti ibogaine — senyawa yang dirujuk dalam perintah eksekutif Trump — yang belum melalui uji klinis berskala besar di AS dan dikaitkan dengan risiko kardiovaskular serius.
Respons Pasar dan Industri
Pengumuman tersebut langsung memicu lonjakan saham sejumlah perusahaan pengembang obat psikedelik, termasuk Compass Pathways. Para analis Wall Street menilai perintah ini bisa melegitimasi industri yang selama ini dianggap pinggiran.
Kabir Nath, CEO Compass Pathways, menyambut positif langkah Gedung Putih. "Ini memberikan angin segar, dorongan, dan validasi yang signifikan," ujarnya. Namun ia menegaskan perusahaannya tetap mengikuti standar FDA yang berlaku.
Motif Politik?
Sejumlah kritikus berpendapat waktu penandatanganan perintah ini tidak lepas dari kalkulasi politik — sebagai upaya Trump merebut kembali dukungan veteran menjelang pemilihan paruh waktu, di tengah kritik atas pemangkasan anggaran layanan kesehatan veteran.
Phelan sendiri menepis anggapan itu. "Mereka sudah memangkas banyak manfaat dan layanan medis bagi veteran. Baiklah, ini memang hal yang benar dilakukan. Tapi apakah itu akan mengubah dukungan politik? Saya sangsi," tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....