Bahan Baku Mahal Jadi Tantangan Industri Kreatif di Aceh

  • 15 Jan 2025 02:45 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Industri kreatif di Aceh terus mengalami perkembangan positif, terutama dalam sektor fashion yang mengusung kearifan lokal. Verawaty, pemilik Vee Design di Banda Aceh, menyatakan bahwa meski terdapat berbagai tantangan, khususnya terkait bahan baku dan sumber daya manusia (SDM), pelaku UMKM di Aceh semakin mampu memadukan budaya lokal dalam produk mereka.

Dalam wawancara bersama PRO 1 RRI Banda Aceh pada Senin (13/1/2024), Verawaty menjelaskan bahwa salah satu kendala utama yang dihadapi pelaku industri kreatif di Aceh adalah tingginya harga bahan baku akibat lokasi geografis yang jauh dari pusat distribusi.

“Karena kita berada di ujung, biaya untuk bahan baku menjadi lebih mahal. Ini membuat pengeluaran lebih besar dibandingkan daerah lain seperti Bandung atau Yogyakarta,” ujarnya.

Selain itu, Verawaty menyoroti permasalahan SDM yang menurutnya masih perlu ditingkatkan. “Kalau soal SDM, ini terkait dengan kultur masyarakat. Tapi saya yakin, dengan edukasi yang tepat, anak-anak muda Aceh akan semakin kreatif dan mampu bersaing di dunia fashion,” tambahnya.

Verawaty menegaskan pentingnya kebanggaan terhadap produk lokal sebagai upaya untuk mempromosikan kearifan budaya Aceh. Salah satu contoh produk yang berhasil mendapat perhatian adalah peci Aceh.

“Awalnya, saya merasa miris melihat orang Aceh lebih bangga menggunakan produk dari luar daerah, seperti I Love Bali atau I Love Singapore. Kenapa tidak bangga dengan produk Aceh sendiri? Saya ingin masyarakat Aceh bangga memakai produk lokal,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kesadaran masyarakat Aceh untuk menggunakan produk lokal meningkat setelah produk-produk seperti peci Aceh viral di tingkat nasional.

“Ketika produk kita diminati di pasar nasional, baru masyarakat lokal menyadari bahwa produk Aceh itu keren. Saya sangat bersyukur melihat perubahan ini,” lanjut Verawaty.

Dalam menciptakan produk fashion, Verawaty menerapkan konsep desain modifikasi yang menggabungkan elemen tradisional dengan sentuhan modern. Menurutnya, produk yang tidak monoton lebih menarik bagi generasi muda.

“Kami menggunakan warna-warna yang berani dan desain yang tidak monoton. Contohnya, kami membuat outer yang memadukan berbagai motif dan warna yang sesuai dengan selera anak muda. Bahkan, kami menerima pesanan kustom, termasuk penggunaan warna sesuai logo perusahaan atau organisasi,” jelasnya.

Verawaty juga menegaskan bahwa meskipun desain produknya modern, tetap ada sentuhan budaya Aceh yang dipertahankan. “Kami mempertahankan etnik Aceh, tetapi kami juga memberikan pilihan warna yang lebih bervariasi agar produk kami tidak membosankan,” tambahnya.

Melihat perkembangan positif ini, Verawaty berharap semakin banyak anak muda Aceh yang terlibat dalam dunia fashion dan bangga menggunakan produk lokal. Menurutnya, peran UMKM sangat penting dalam pelestarian kearifan lokal dan penguatan identitas budaya Aceh.

Dengan dukungan yang tepat, menurutnya, UMKM di Aceh dapat terus berkembang dan membawa produk-produk lokal ke pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Anak muda sekarang sudah mulai bangga memakai produk Aceh. Ini adalah langkah awal yang baik untuk terus mengembangkan industri kreatif di Aceh. Saya ingin melihat lebih banyak desainer muda Aceh yang mampu mempromosikan budaya lokal melalui karya mereka,” tutup Verawaty.

Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....