Ecoprint Jadi Media Ekspresi Seni dan Peluang UMKM
- 26 Mei 2026 08:06 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Kain ecoprint kian diminati sebagai produk fesyen ramah lingkungan yang mengedepankan keunikan motif alami. Melalui program UMKM Talk’s RRI Banda Aceh bertajuk “Ekspresi Harmoni Sentuhan Pesona Alam dalam Setiap Serat Kain Ecoprint”, owner Tini Craft Collection, Suhartini, membagikan perjalanan dan proses kreatif dalam mengembangkan kerajinan ecoprint di Aceh Besar.
Suhartini mengatakan ketertarikannya pada ecoprint berawal dari keunikan motif yang dihasilkan daun dan bunga alami. Menurutnya, setiap motif yang tercipta tidak akan pernah sama karena dipengaruhi bentuk daun, proses oksidasi, hingga kondisi alam.
“Keunikan ecoprint itu tidak bisa dicapai mesin. Satu daun saja di pohon tidak ada yang sama bentuk dan ukurannya, jadi hasil cetaknya juga selalu berbeda,” ujarnya saat dialog bersama RRI Senin 26 Mei 2026.
Ia menjelaskan ecoprint merupakan teknik memindahkan warna dan bentuk alami dari daun atau bunga ke media seperti kain, kertas, hingga keramik, tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya. Selain menghasilkan karya seni, teknik ini dinilai ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar.
Menurut Suhartini, bahan dasar yang digunakan harus berasal dari serat alami seperti katun, linen, rayon, atau sutra agar warna daun dapat menempel sempurna. Sementara daun yang digunakan sangat beragam, mulai dari daun jati, pakis, ekaliptus, hingga tanaman liar di sekitar rumah.
“Semua daun sebenarnya bisa digunakan, hanya perlakuannya berbeda-beda. Ada daun yang dipakai karena warnanya, ada juga yang hanya meninggalkan jejak bentuknya saja,” katanya.
Dalam proses produksinya, kain terlebih dahulu dibersihkan dari zat kimia pabrik, lalu melalui tahap mordanting atau pembukaan pori kain menggunakan bahan alami seperti tawas, cuka, dan soda abu. Setelah itu daun ditata di atas kain, digulung rapat, lalu dikukus hingga motif dan warna berpindah ke kain.
Suhartini mengaku proses pengerjaan ecoprint membutuhkan ketelitian dan suasana hati yang baik karena termasuk karya seni yang mengandalkan kreativitas. Dalam kondisi ideal, satu produk dapat selesai dalam tiga hingga empat hari.
“Kalau tidak mood, hasilnya juga kurang maksimal. Jadi ecoprint ini memang bukan sekadar produksi, tapi juga media healing dan ekspresi seni,” ucapnya.
Selain kain, Tini Craft Collection juga mengembangkan produk lain seperti jilbab, mukena, syal, hingga mug berbahan keramik dengan teknik ecoprint. Pemasaran produk dilakukan secara digital melalui media sosial dan status WhatsApp.
Meski peluang pasar dinilai cukup besar, Suhartini menyebut tantangan utama pengembangan ecoprint di Aceh adalah keterbatasan sumber daya manusia dan minimnya produksi massal. Ia berharap pemerintah dapat membantu promosi dan membuka lebih banyak ruang pamer bagi produk UMKM ramah lingkungan.
“Kalau promosi lebih luas dan ada event rutin, tentu akan semakin banyak masyarakat tertarik belajar ecoprint dan menjadikannya peluang usaha,” katanya.
Di akhir dialog, Suhartini mengajak generasi muda dan ibu rumah tangga untuk berani memulai usaha kreatif berbasis potensi alam lokal. Menurutnya, dedaunan yang selama ini dianggap sampah dapat bernilai ekonomi apabila diolah dengan kreativitas.
“Jangan takut memulai sesuatu yang unik. Bisa jadi hal yang dianggap biasa justru menjadi peluang baru untuk berkembang dan membantu ekonomi keluarga,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....