Sahabat Andhikara Hadirkan Ruang Belajar Isu Sosial di Sekolah
- 26 Mei 2026 20:53 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Komunitas Sahabat Andhikara menghadirkan program “Go to School” sebagai ruang belajar alternatif bagi pelajar untuk memahami berbagai isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari perundungan, kekerasan seksual, hingga kesetaraan gender.
Co-founder Sahabat Andhikara, Aliya Chairunnisa mengatakan komunitas tersebut dibentuk oleh tiga alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala yang memiliki keresahan terhadap masih banyaknya persoalan sosial yang belum terselesaikan meski aturan hukum telah tersedia.
“Kami melihat ada banyak isu sosial yang masih terjadi di masyarakat. Dari situ kami berpikir apa yang bisa kami lakukan sebagai bentuk kontribusi kecil untuk masyarakat,” kata Alya saat dialog bersama RRI Minggu, 24 Mei 2026.
Ia menjelaskan Sahabat Andhikara berfokus pada isu hak asasi manusia, khususnya perlindungan perempuan, anak, kelompok rentan, penyandang disabilitas, dan lansia.
Menurutnya, pendidikan dipilih sebagai media utama karena perubahan sosial harus dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni membangun kesadaran dan empati generasi muda.
“Belajar bukan hanya soal menghafal atau mencari jawaban, tetapi memahami kenyataan sosial di sekitar dan bagaimana bersikap terhadap persoalan tersebut,” ujarnya.
Melalui program “Go to School”, komunitas tersebut mendatangi sekolah-sekolah untuk membuka ruang diskusi yang lebih jujur dan relevan dengan kondisi nyata di masyarakat.
Alya menyebutkan sejumlah tema yang dibahas dalam kegiatan itu di antaranya perundungan, pelecehan seksual, kesetaraan gender, dan inklusivitas sosial.
Menurut dia, banyak isu yang sebenarnya dekat dengan kehidupan pelajar, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka di ruang kelas.
“Kami ingin murid-murid tahu bahwa isu seperti kekerasan seksual itu nyata dan bisa terjadi di mana saja, termasuk di sekolah, rumah, maupun media sosial,” katanya.
Ia menambahkan kegiatan tersebut tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membekali siswa tentang langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi atau menyaksikan persoalan sosial di lingkungannya.
Dalam dialog itu, Alya juga menjelaskan mengenai catcalling yang sering dianggap sebagai candaan biasa di masyarakat.
Menurut dia, catcalling merupakan tindakan verbal maupun nonverbal bernuansa seksual yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi korban.
“Sekecil siulan atau komentar terhadap fisik seseorang itu bisa termasuk catcalling jika membuat orang lain merasa terganggu,” ujarnya.
Sementara itu, relawan Sahabat Andhikara, Ulfa Rahayu mengatakan dirinya bergabung karena ingin berbagi pengalaman dan membantu pelajar memahami realitas sosial yang tidak selalu dibahas dalam pembelajaran formal.
“Saya ingin hadir sebagai teman belajar mereka dan menjadi jembatan kecil antara realitas sosial dengan siswa,” katanya.
Ia mengatakan pendekatan yang digunakan dalam program tersebut dibuat santai agar siswa merasa nyaman untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat.
Kegiatan biasanya diawali dengan permainan ringan, pertanyaan sederhana, hingga storytelling agar suasana lebih terbuka.
Menurut Ulfa, antusiasme siswa cukup tinggi setelah kegiatan dimulai karena mereka merasa materi yang dibahas dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sahabat Andikara berharap program “Go to School” dapat membantu membangun generasi muda yang lebih peka terhadap isu sosial dan memiliki keberanian untuk bersikap ketika menghadapi persoalan di lingkungan sekitarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....